Berita Kabupaten Banjar

Cabai di Tiwinganbaru Rusak, Dinas TPH Kabupaten Banjar Sebut Bukan karena Hama tapi Masalah Ini

Kerusakan buah cabai di Desa Tiwinganbaru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), mengejutkan Dinas Tanaman Pangan

Cabai di Tiwinganbaru Rusak, Dinas TPH Kabupaten Banjar Sebut Bukan karena Hama tapi Masalah Ini
banjarmasinpost.co.id/idda royani
IR HM FACHRY MP, kadis TPH Kabupaten Banjar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kerusakan buah cabai di Desa Tiwinganbaru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), mengejutkan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) setempat.

Apalagi ketika petani di Tiwinganbaru menyebut organisme pengganggu tanaman (OPT) yang merusak tanaman cabai yakni ampangau.

"OPT pada tanaman lombok biasanya bukan hama pengisap (ampangau). Kemungkinan itu penyakit Antracnose atau lalat buah," sebut Kepala Dinas TPH Banjar HM Fachry, Jumat (24/05/2019).

Pejabat eselon II di Bumi Barakat ini lalu mengatakan dirinya akan menggali informasi lebih lanjut pada PPL (penyuluh pertanian lapangan) dan pada perugas pengendali organisme pengganggu tanaman-pengamat hama penyakit (POPT-PHP).

Setelah itu baru bisa mengidentifikasi hama atau penyakit yang menyerang tanaman cabai di Tiwinganbaru. Dengan begitu bisa ditentukan pestisida yang tepat untuk pengendaliaannya.

Berdasar analisa dari PPL dan POPT-HPT, beber Fachry, kerusakan cabai di Tiwinganbaru diduga akibat serangan penyakit Antracnose yang disebabkan cendawan.

Baca: BREAKING NEWS : Puluhan Warga Kapuas Dievakuasi ke Rumah Sakit, Diduga Keracunan Makanan

Baca: Jadwal Buka Puasa di Banjarmasin Jakarta Bandung dan Doa Ramadhan 1440 Hari ke-19

"Itu penyakit utama pada lombok. Kalau, ampangau pengisap buah lombok, tidak begitu berdampak. Ada dua OPT yang kerap jadi momok budidaya lombok yakni antrachnosa dan lalat buah," sebut Fachry.

Penanggulangannya, beber Fachry, jika penyebabnya adalah antracnose l, maka langsung dilakuian pemungutan tanaman/cabai yang terserang. Dimasukkan ke lubang dan jika memungkinkan dibakar.

Setelah itu diaplikasikan fungisida (pencegah jamur) seperti, topsin atau benlate.

Fachry mengatakan penyakit menyebar bisa melalui serangga yang tersentuh buah yang telah terserang. Juga bisa melalui tangan manusia atau alat-alat mekanik.

"Termasuk gesekan antara buah yang terserang penyakit dengan buah buah yang sehat," sebut Fachry.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved