Tajuk

Jumat Kelabu

Kericuhan yang terjadi di DKI Jakarta pascapengumuman hasil Pemilihan Presiden dan Legislatif, 21-22 Mei 2019

Jumat Kelabu
(KOMPAS.com/ TATANG GURITNO )
Polisi membubarkan ratusan massa yang masih berunjuk rasa didepan kantor Bawaslu RI, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019). Menurut pantauan Kompas.com dilokasi, ratusan massa mulai dibubarkan karena merusak pagar besi yang diletakkan kepolisian di depan kantor Bawaslu RI pada pukul 22.15 sambil menyanyikan lagu Pak polisi tugasmu mengayomi, berulang kali.(KOMPAS.com/ TATANG GURITNO ) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kericuhan yang terjadi di DKI Jakarta pascapengumuman hasil Pemilihan Presiden dan Legislatif, 21-22 Mei 2019, menjadi duka mendalam bagi demokrasi di Indonesia. Sportivitas yang harusnya dijunjung, baik kalah atau menang, harus dikedepankan dibanding emosi meledak.

Ujung-ujungnya, bukan aspirasi yang disampaikan ke instasi terkait seperti Badan Pengawas Pemilu atau Mahkamah Konstitusi, tetapi lemparan batu, pembakaran petasan hingga bentrok fisik dengan aparat keamanan.

Namun berbeda dengan aksi serupa beberapa tahun sebelumnya, sejak awal aparat keamanan sudah mengantisipasi isu ada pihak lain yang akan mengancau, sehingga saat menangani pengunjuk rasa tak ada satu pun polisi dan tentara yang menggunakan senjata api berpeluru tajam.

Hasilnya, diinfokan ada enam korban penembakan, dan polisi memastikan itu bukan ulah aparat keamanan. Malah, polisi menemukan ada pihak yang sengaja menjadi pengunjuk rasa sebagai martir, dan ditemukan pula senjata api yang digunakan.

Kerusuhan massa memang merugikan semua pihak dan mengganggu aktivitas warga. Bagi warga Kalsel, peristiwa “Jumat Kelabu” 23 Mei 1997 merupakan catatan kelam sejarah daerah ini.

Kamis (23/5) kemarin, genap 22 tahun peristiwa kelabu bagi Banua menjadi torehan sejarah dan jejak kelam dan pelajaran bagi kita semua. Efek kebrutalan tanpa perhitungan dari para pelaku rusuh, membuat Kota Banjarmasin mengalami kerugian sangat besar.

Saat itu, hingga sepekan setelahnya, semua aktivitas di Kota Banjarmasin lumpuh. Jam malam diberlakukan. Di tiap sudut kampung, banyak warga berjaga karena takut aksi rusuh kembali terulang.
Puluhan bangunan luluh lantak akibat aksi bumi hangus para perusuh. Kuburan massal di Banjarbaru menjadi saksi berapa banyak korban yang tidak terdata.

Hingga kini apa yang sebenarnya terjadi hingga berapa jumlah pasti korban dan kerugian akibat kerusuhan waktu itu belum juga ada jawaban. Hanya cerita-cerita dari orang yang hingga kini belum menemukan anggota keluarganya yang hilang.

Meski sudah 22 tahun berlalu, tentu warga yang saat itu mengalami dan merasakan kengerian saat peristiwa rusuh di hari terakhir Kampanye Pemilu 2997, ingin mengetahui kepastian mengenai apa dan bagaimana nasib keluarga mereka yang hilang.

Tentu saja, tidak ada warga Kalsel yang ingin peristiwa serupa akan terulang di Banua. Meski hanya kerusuhan massa dan pembakaran seperti di DKI Jakarta, hal tersebut jangan sampai terjadi di sini. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved