Berita Banjar

Petani Cabai Banjar Resah, Ini Penyebabnya

Kalangan petani di Desa Tiwinganbaru dilanda kegundahan. Ini menyusul mengganasnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Petani Cabai Banjar Resah, Ini Penyebabnya
banjarmasinpost.co.id/idda royani
UTAMA¬†- Imuh, petani Tiwinganbaru, sibuk beraktivitas di kebun cabainya. Sejak beberapa pekan terakhir, tanaman cabainya terserang OPT. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Kalangan petani di Desa Tiwinganbaru, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), dilanda kegundahan. Ini menyusul mengganasnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Saat ini kebun cabai mereka yang menjadi sasaran OPT. Dampaknya spontan dirasakan kalangan petani Tiwinganbaru karena panenan menjadi anjlok atau terjun bebas.

"Kebun cabai saya yang semula dapat 32 kilogram sekali petik, dua hari lalu metik cuma dapat 25 kilogram," sebut Bariah, petani cabai Tiwinganbaru, Jumat (24/05/2019).

Ia menuturkan serangan OPT terjadi sejak sekitar tiga bulan lalu dan kian mengganas sejak tiga pekan terakhir. Panenan langsung anjlok. "Bahkan tetangga saya ada yang cuma dapat sembilan kilo. Padahal sebelumnya dapat 80 kilo, lalu panen lagi masih dapat 60 kilo. Beberapa hari lalu metik, anjlok banget, cuma dapat segitu," ucap Bariah.

Baca: Menghuni TPA Bakunci, Kucing Liar Buangan Warga Sering Dimakan Ular

Baca: Kemuliaan Malam Lailatul Qadar, Ustadz Suriani: Ketika para Malaikat diberi Tugas-Tugas

Baca: Penjual Sayur Keliling Ditemukan Tewas, Diduga Korban Rampok

Pihaknya bingung mengatasi OPT tersebut. Apalagi tak pernah melihat secara langsung bentuk OPT itu karena diperkirakan menyerang saat hari gelap (malam).

"Tapi berdasar pengalaman selama ini dan dilihat dari kerusakan pada buah cabai, itu jenis ampangau. Lebih besar dari lalat, besarnya kayak belalang," sebutnya.

Hama tersebut, lanjut Bariah, menghisap buah cabai. Akhirnya buah cabai menjadi rusak yakni penuh dengan bintik-bintik hitam. Lantaran penampakannya seperti itu, konsumen tak mau membeli.

Ia mengatakan telah berupaya mengatasi serangan hama tersebut, tapi tak kunjung berhasil. "Tanaman cabai sudah saya semprot pakai insektisida yang biasanya kami pakai membasmi semut dan sejenisnya. Tapi tak mempan pada ampangau," kata Bariah.

Karena itu dirinya dan petani cabai lainnnya di kampungnya bingung, bagaimana mengatasi serangan hama tersebut. "Saya sudah tanya orang-orang di kampung menanam cabai dan semuanya mengaku kebun cabainya terserang ampangau," bebernya.

Kebun cabai milik Bariah yang luasannya hampir satu hektare, seluruhnya terserang ampangau. Sebagian besar petani di Tiwinganbaru sejak dulu menggeluti budidaya cabai ketimbang padi.

Baca: Buron Enam Tahun, Ibu Rumah Tangga Ini Ditangkap di Jakarta, Terdakwa Pemalsu Sertifikat Tanah

Baca: Cek Kondisi Refrigerant Jelang Mudik Lebaran Agar Kabin Tetap Adem, Simak Penjelasannya

"Meski kena hama penyakit, ya tetap saja kami di sini bertanam cabai karena sudah jadi usaha sejak turun temurun. Serangan ampangau mulai terjadi sejak tahun lalu, cuma tahun ini makin ganas," tandas Bariah.

Kalangan petani cabai di Tiwinganbaru berharap Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Banjar turun tangan membantu mencari solusi mengatasi serangan OPT tersebut

"Tolong lah kami di sini, kami bingung tak tahu lagi bagaimana caranya membasmi ampangau ini," timpal petani lainnya.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved