Tajuk

Lagi-lagi Keracunan Massal

LAGI, lagi dan lagi. Menyedihkan dan memalukan. Keracunan massal kembali terjadi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Lagi-lagi Keracunan Massal
tribunkalteng.com/jumadi
Korban keracunan massal dbawa ke rumah sakti di i Kualakapuas, Kapuas Kalteng, Kamis (4/5/2017) malam. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - LAGI, lagi dan lagi. Menyedihkan dan memalukan. Keracunan massal kembali terjadi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Puluhan bahkan ratusan warga Desa Narahan Pulau Petak dibawa ke rumah sakit termasuk RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas usai santap bersama, Kamis (23/5).

Kebetulan acaranya adalah buka pua­sa bersama di Masjid Nurul Istiqomah, Handil Simpang Aya, Desa Narahan.
Setidaknya ada lima keracunan massal di Kapuas sejak 2007. Kejadian ini bahkan tak berselang lama dengan sebelumnya.

Pada 2 Mei 2019, sekitar 40 warga Desa Lamunti Permai (A1) Kecamatan Mantangai harus mendapat perawatan medis setelah menyantap hidangan ulang tahun warga setempat.

Ini bukan kejadian pertama di Lamunti. Pada 30 Des 2007, lebih dari 100 warga Lamunti serta warga Kota Kuala Kapuas keracunan. Itu setelah mereka menyantap nasi kotak pembukaan lahan sawit PT Dian Agro Mandiri yang dihadiri para pejabat Pemkab Kapuas.

Sebuah acara pemkab juga menyebabkan keracunan massal. Sebanyak 62 warga Desa Mampai Kecamatan Kapuas Murung keracunan pada pertengahan Mei 2012. Itu setelah mereka menyantap nasi acara pembukaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat IX dan Hari Kesatuan Gerak PKK Ke-40 Tingkat Kabupaten Kapuas.

Tidak ada yang menginginkan musibah. Namun jika terjadi berkali-kali, tentu ini menimbulkan pertanyaan. Sementara ini tidak ada jawaban rinci mengenai penyebab keracunan. Jawabannya hanya sampai pada makanan yang dibikin tidak higienis.

Tentunya kasus ini terkait pengusaha makanan atau catering. Apakah selama ini mereka telah mendapat penyuluhan dari pihak berwenang? Tidak tahu.

Apakah pihak rumah sakit di Kapuas sudah mempersiapkan diri menghadapi masalah seperti ini? Mungkin pihak rumah sakit berpengalaman. Namun apakah pengalaman ini menjadi pelajaran? Tidak tahu.

Oleh karena keracunan massal hanya dipandang sebagai musibah, tidak ada yang menjadikannya pelajaran. Mungkin karena selama ini belum terdengar ada korban jiwa.

Perlu ada pemikiran lain mengenai kejadian ini. Keracunan massal perlu dipandang sebagai kelalaian atau upaya mencari besar sehingga mengabaikan keselamatan orang lain.

Pengusaha seperti ini perlu diberi sanksi atau konsekuensi hukum. Dengan demikian akan banyak orang yang memperhatikannya dan para pengusaha makanan akan lebih memperhatikan produknya. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved