Opini

Mengenang KH Muhammad Arifin Ilham, Ulama Banjar yang Go National

KH Muhammad Arifin Ilham bin H Ilham Marzuki yang biasa dipanggil Ustadz Arifin Ilham wafat di RS Penang Malaysia,

Mengenang KH Muhammad Arifin Ilham, Ulama Banjar yang Go National
BPost
Ahmad Barjie B Penulis buku “Mengenang Ulama dan Tokoh Banjar”

OLEH: AHMAD BARJIE B
Penulis buku “Mengenang Ulama
dan Tokoh Banjar”

BANJARMASINPOST.CO.ID - Umat Islam Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan kembali kehilangan salah seorang ulama muda kebanggaan. KH Muhammad Arifin Ilham bin H Ilham Marzuki yang biasa dipanggil Ustadz Arifin Ilham wafat di RS Penang Malaysia, 17 Ramadan 1440 H / 22 Mei 2019 pukul 22.50 waktu setempat.

Setelah dimandikan dan disalatkan di Masjid al-Munawwar Penang, jenazah dterbangkan ke Jakarta, dishalatkan kembali di Kompleks Pesantren Az-Zikra Sentul, kemudan dimakamkan di Gunung Sindur Bogor Jawa Barat.

Arifin Ilham sangat terkenal sejak muda. Ia sudah mampu berdakwah sejak usia 16 tahun. Pendidikan TK dan SD ditamatkannya di Banjarmasin dan sempat sekolah SMP setahun di kota ini.

Selanjutnya Arifin Ilham menjadi santri di Pondok Pesantren Darun Najah kawasan Ulujami Kebayoran Lama Jakarta. Di pondok asuhan KH Machrus Amin ini Arifin Ilham makin menempa kemahirannya berdakwah.

Ketika penulis mengikuti kegiatan Forum Komunikasi Islamic Center Tingkat Nasional di pondok ini beberapa tahun lalu, pihak pondok begitu membanggakan Arifin Ilham sebagai salah satu alumnusnya yang menonjol dan berhasil dalam dunia dakwah.

Di dalam buku “Ulama Kalsel dari Masa ke Masa” yang disusun Tim MUI Kalsel diinformasikan bahwa selain di Darun Najah, Arifin Ilham juga menggali ilmunya di Pondok Asy-Syafiiyah dan Alwiyah Jakarta serta kuliah di Universitas Nasional Jakarta Fakultas Hubungan Internasional.

Meskipun ayahnya H Ilham Marzuki dan ibunya Hj. Norhayati selalu mengirimkan uang sekolah dan kuliah dari Banjarmasin, namun Arifin Ilham tidak keberatan bekerja kasar guna menambah biaya sekolah/kuliah. Ia pernah berjualan kue goreng di Pasar Minggu Jakarta serta menjadi kenek taksi jurusan Cililitan dan Cibubur.

Kesibukannya itu tidak menjadikannya lupa berteman. Karena keasyikan berteman, pada 1996 terjadi peristiwa tragis, tangannya digigit ular berbisa milik temannya, yang menyebabkan ia pingsan dan koma selama 21 hari.

Mengapa belakangan suara dakwahnya agak serak, menurut Arifin Ilham dalam satu ceramahnya di televisi, hal itu diduga dampak gigitan ular tersebut, namun ia sangat bersyukur karena masih diberi kehidupan.

Dakwah dan Zikir
Nama Arifin Ilham benar-benar melejit dan menasional dalam 20 tahun terakhir. Hal ini antara lain disebabkan Arifin Ilham menggunakan banyak media dalam menyampaikan dakwahnya.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved