Berita Banjarmasin

Buat Tanaman di Lahan Gambut Jadi Berharga, BRG Bina 26 Desa Peduli Lahan Gambut

Balai Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia nampaknya gencar melakukan pencegahan terjadinya kebakaran pada wilayah gambut.

Buat Tanaman di Lahan Gambut Jadi Berharga, BRG Bina 26 Desa Peduli Lahan Gambut
BRG untuk banjarmasinpost.co.id
Warga binaan BRG di Desa Darussalam Amuntai membuat anyaman bakul dari purun yang merupakan tanaman di lahan gambut 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Balai Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia nampaknya gencar melakukan pencegahan terjadinya kebakaran pada wilayah gambut.

Sebagaimana dijelaskan oleh Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG RI, Dr Myrna A Safitri, pihaknya lebih bekerja lebih dulu sebelum kebakaran terjadi.

Menjelang musim kemarau ini, BRG RI sebut Myrna terus berupaya untuk pencegahan kebakaran tersebut. Sebagaimana tugas dan peran BRG. Penangananya yakni dengan menjaga lahan gambut agar tetap lembab.

“Kami bertugasnya diulu untuk pencegahan kebakaran dengan cara meningkatkan kembali tinggi muka air dan melembabkan gambut yang sudah kering,” ucap Myrna.

Merujuk rilis yang disampaikan oleh tim BRG, Minggu (26/5/2019), ada sekitar 26 desa peduli lahan gambut di Kalsel.

Baca: Perubahan Andre Taulany yang Kembali di Program TV, Sahabat Sule Terlihat Pangling

Baca: Sikap Aurel Hermansyah Hingga Disebut Bos Kedua Oleh Karyawan Ashanty dan Anang Hermansyah

Baca: Live Indosiar! Cara Live Streaming PSIS Semarang vs Persija Jakarta Liga 1 2019, Kemenangan Perdana

Desa tersebut mendapatkan pembinaan untuk turut serta peduli terhadap kawasan tersebut. Caranya yakni membuat berharga setiap tanaman yang tumbuh di atasnya.

Satu di antara desa yang dibina ialah Desa Darusalam, Kecamatan Danaupanggang, Amuntai.

Myrna mengatakan, di desa tersebut diselenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kemampaun pengrajin purun dan sasirangan pewarna alam. Pasalnya, di lahan gambut jelas Myrna memang sering ditumbuhi purun dan sejumlah tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk pewarna.

“Sebenarnya kami melihat di lahan gambut banyak sekali potensi serat alam yang bisa dikembangkan termasuk purun, eceng gondok dan lain lain. Sayang jika tidak dimanfaatkan,” ucap Myrna.

Tentunya pengembangan tersebut tak serta merta dilakukan. Myrna menjelaskan perlu adanya pelatihan kepada para pengrajin untuk membuat produk standar international. Sehingga setiap bahan alam yang diolah bisa menghasilkan daya jual dan nilai yang tinggi.

Halaman
12
Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved