Berita Kabupaten Banjar

Sepekan Menjalani Perawatan di Rumah, Ini Akhir Perjuangan Otim Melawan Kanker Ganas

Usai sudah perjuangan Muhammad Khotim atau Otim (18) melawan kanker ganas yang menggerogoti lutut kanannya.

Sepekan Menjalani Perawatan di Rumah, Ini Akhir Perjuangan Otim Melawan Kanker Ganas
banjarmasinpost.co.id/idda royani
Nurul Habibah dan kawan-kaean dari FKMKB membezuk Otim yang terbaring kemah di kediaman di Desa Pasiraman, Kamis (16/05/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Usai sudah perjuangan Muhammad Khotim atau Otim (18) melawan kanker ganas yang menggerogoti lutut kanannya.

Derita berkepanjangan yang sejak awal tahun lalu ia alami dan rasakan tergenapkan oleh ketetapanNya. Lajang yang sangat mencintai kedua orangtuanya itu akhirnya menghadap Ilahi Robbi.

Banjir air mata pun tumpah di lingkungan keluarga tercintanya di Desa Pasiraman, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar. "Selasa (21/05/2019) kemarin Otim meninggal," ucap Ubudiah, tante Otim, Minggu (26/05/2019).

Sejak pulang dari RSUD Ratu Zalecha (Raza), Martapura, Senin (13/05/2019) lalu, kondisi kesehatan Otim memang makin drop atau melemah. Ia kembali kerap mengalami sesak napas. Bahkan jarum infus juga tak memungkinkan lagi menembus kulitnya.

Baca: LIVE Trans7 MotoGP Italia 2019 - Inilah Catatan Kelam Marquez, Kesempatan Rossi Berjaya di Kandang?

Baca: Siaran Langsung TVRI! Live Streaming Final Piala Sudirman 2019 China vs Jepang Minggu (26/5)

Baca: Aura Kasih Kembangkan Bisnis Kafe dan Coworking Space, Gandeng Anak Wali Kota Surabaya

Kondisi kesehatan Otim mulai drop serius sejak tiga pekan lalu pascapecahnya kanker tulang yang membesar di lutut kanannya. Saat itu ia sesak napas dan bahkan kemudian tak sadarkan diri akibat kehilangan banyak cairan (darah).

Kala itu juga, orangtua Otim mengevakuasi sang anak ke RSUD Ratu Zalecha (Raza), Martapura. Petugas medis kemudian memasang oksigen ke hidung sehingga remaja itu tak sesak napas lagi. Namun fisiknya tetap lemah dan tak bisa duduk. Sebelumnya (sebelum kankernya pecah) masih bisa duduk.

Beberapa pekan silam, Otim pernah dibawa ke RS Raza dan bahkan dirujuk ke RSU Ulin di Banjarmasin. Rekomendasi dokter di dua rumah sakit itu sama yakni amputasi sebagai satu-satunya solusi menyelamatkan Otim.

Tapi sang ibu, Rahmaniah, tak tega jika betis anak semata wayangnya diamputasi. Ia memilih membawa sang anak pulang untuk merawat dan mengobati semampunya melalui pengobatan alternatif.

Rahmaniah menyakini kanker yang menggerogoti betis anaknya itu bisa disembuhkan. Keyakinannya dilandasi dengan kenyataan pecahnya kanker di area lutut kanan anaknya itu. Padahal dokter di RS Raza dan RSU Ulin menyatakan kepadanya bahwa kanker itu tak mungkin pecah.

Namun ikhtiar segenap jiwa raga yang dilakukan Rahmaniah tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Impiannya melihat sang anak kembali sehat pun tinggal kenangan karena Tuhan punya rencana lain; memanggil anak kesayangannya itu.

Kesedihan tak cuma melanda keluarga Otim, tapi juga dirasakan keluarga besar Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Banjar (FKMKB) yang sejak awal turut membantu melakukan pendampingan perawatan di rumah sakit.

"Otim meninggal pada hari ke-14 Ramadan kemarin. Kami sangat sedih," ucap Nurul Habibah dari FKMKB.

(banjarmasinpost.co.id/roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved