Tajuk

Puasakan Juga Jari-jarimu

Netizen kembali bisa bebas memanfaatkan beragam medsos seperti Facebook, WhatsApp dan Instagram yang selama tiga hari dibatasi aksesnya.

Puasakan Juga Jari-jarimu
Yoga Hastyadi/ Kompas.com
Menkominfo Rudiantara saat menghadiri Ulang Tahun ke-19 XL Axiata di Jakarta, Jumat (16/10/2015) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - AKHIRNYA, Sabtu (25/5) sore kemarin pemerintah menghentikan kebijakan pembatasan akses media sosial (medsos). Netizen kembali bisa bebas memanfaatkan beragam medsos seperti Facebook, WhatsApp dan Instagram yang selama tiga hari dibatasi aksesnya.

Pembatasan akses medsos yang diberlakukan pasca-kerusuhan pada Selasa dan Rabu (21-22 Mei 2019) kemarin memang menimbulkan polemik. Sebagian masyarakat terutama netizen bisa memahami alasan pemerintah memberlakukan kebijakan yang tidak lazim itu.

Kita tahu, saat ini medsos telah dikotori oleh banyaknya informasi yang tidak benar (hoaks) bahkan fitnah. Penggunaan medsos secara tidak benar ini bahkan dinilai banyak kalangan telah mengancam rajutan persatuan dan kesatuan bangsa. Polarisasi terjadi karena penyebaran informasi yang tidak terkontrol.

Bisa dikatakan pembatasan akses terhadap medsos merupakan alternatif yang harus dilakukan pemerintah dalam situasi dan kondisi yang “tidak sehat” saat ini. Pembatasan tentu masih lebih baik dibandingkan pemblokiran atau penghentian akses medsos, seperti terjadi di beberapa negara lain.

Dalam situasi “genting” sepatutnya masyarakat terutama netizen perlu sedikit berkorban.

Beberapa hari kemarin, kebebasan mutlak itu berkurang. Karena itu, pasti tidak sedikit yang kecewa bahkan marah. Akan tetapi, apabila kita mencintai dan tak ingin negara ini terpolarisasi oleh penyebaran hoaks dan provokasi negatif lewat medsos, sudah sepatutnya bisa memaklumi kebijakan tersebut.

Pepatah mulutmu adalah harimaumu tentu sudah tidak asing lagi. Mengilustrasikan setiap lisan yang keluar dari mulut manusia adalah ibarat pisau tajam yang siap memotong apapun, termasuk diri sendiri. Seiring perkembangan era digital, pepatah itu “berfansformasi” menjadi jarimu harimaumu. Sekarang jari-jari tangan bisa dibilang tak kalah berbahaya daripada mulut. Jari-jari berubah menjadi silet tajam yang bisa secara cepat melukai orang lain. Lukanya pun lebih dalam.

Saat ini umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dari sisi momentum, kebijakan pembatasan akses medsos itu seiring dengan tujuan berpuasa. Diharapkan, para netizen terutama yang muslim, bisa pula menahan atau memuasakan sementara jari-jari tangannya dari godaan medsos. Menahan diri untuk tidak asal membikin, mem-posting atau menyebarkan tulisan, foto dan video yang sekiranya memiliki kemudharatan bagi banyak orang.

Jari-jari tangan kita, para netizen, memang juga perlu diiistirahatkan sejenak dari godaan medsos. Pemerintah pun tidak memberlakukan kebijakan pembatasan akses medsos dalam jangka waktu lama karena ibarat kacamata, sisi negatif tentu selalu beriring dengan sisi positif. Banyak pula nilai baik yang dimiliki medsos sehingga dia bukanlah “kambing hitam” yang harus terus dan selalu dipersalahkan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved