Ramadhan 2019

Mutiara Ramadhan : Sujud dan Berdiri

Sujud merupakan gerakan ke bawah yang serendah-rendahnya. Sedangkan berdiri adalah gerakan tegak ke atas setingi- tingginya.

Mutiara Ramadhan : Sujud dan Berdiri
capture/banjarmasin post
DR Mutohharun Jinan MAG 

Secara psikologis aktivitas yang didorong oleh kebutuhan akan memberi penekanan pada isi dan substansi. Menempatkan salat sebagai kewajiban saja akan menekankan pada aspek formalitas salatnya.

Isyarat kedekatan

Salat di waktu malam yang sunyi merupakan aktivitas perjumpaan jiwa raga kepada Allah. Kedalaman makna perjumpaan itu tergantung pada kesungguhan mengharap kasih Allah. Karena dalam agama diajarkan Allah menguasai alam raya dan menguasai kehidupan manusia, baik kehidupan lahir maupun batin.

Bagi kaum muslim malam merupakan waktu untuk melakukan pengaduan atas prestasi dosa yang telah dilakukan. Ada sebagian hamba-hamba-Nya yang sedikit sekali tidur di waktu malam dan di waktu sahur, mereka memohon ampun kepada Allah (QS Al-Dzariyat: 17-18).

Inilah yang sesungguhnya hakekat qiyamullail, ibadah yang dijaminkan Allah membawa kemuliaan martabat manusia. Seorang muslim dalam salatnya menghimpun segala bentuk dan cara pengakuan, penghormatan, serta pengagungan yang dikenal umat manusia.

Dalam salat ada isyarat penghormatan menggunakan tangan, berdiri tegak, menunduk, rukuk, sujud, puji-puji, doa, dan pengharapan. Dalam ayat di atas kata sujud lebih dahulu disebut dari pada berdiri, padahal dalam salat berdiri dulu baru sujud.

Hal itu untuk menunjukkan pada saat sujud mengisyaratkan betapa dekatnya manusia kepada Sang Pencipta. Betapa lemahnya manusia di hadapan Tuhannya sehingga tumbuh sifat rendah hati.

Karena itu salat harus dilakukan secara khusyuk penuh ketulusan kepada-Nya. Tidak boleh ada canda tawa, tidak juga dibenarkan ada gerakan selain gerakan saalat.

Kekhusukan dapat diperoleh secara lebih sempurna pada malam sunyi di saat kebanyakan orang tertidur nyenyak. Ibadat salat yang baik, dalam arti akan dapat memberikan efek ruhaniah kepada pelakunya, adalah salat yang memiliki kekhusyukan.

Kualitas atau kondisi khusyuk sendiri merupakan gambaran sikap batin yang sangat sulit dikontrol atau dikendalikan. Itulah sebabnya, kemudian khusyuk tidak termasuk dalam pembahasan fiqih untuk menjadi syarat dan rukun sah salat. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved