Berita Nasional

Kominfo Tutup 61.000 Akun WhatsApp, Rudiantara : Minimalkan Hoaks Fitnah dan Provokasi

Rudiantara menyatakan penutupan akun medsos tersebut dilakukan agar sebaran konten hoaks, fitnah dan provokasi dapat diminimalkan.

Kominfo Tutup 61.000 Akun WhatsApp, Rudiantara : Minimalkan Hoaks Fitnah dan Provokasi
kompas.com
Menkominfo Rudiantara dalam Pembangunan Proyek Jaringan Komunikasi Kabel Laut Australia-Indonesia-Singapura di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Senin (11/12/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah menutup sekitar 61.000 akun media sosial (medsos) yang dinilai menyebar hoaks. Sebanyak 2.184 akun dan situs online di antaranya di-take down menjelang dan selama pembatasan akses 22-25 Mei 2019.

"Saya juga telah berkomunikasi dengan pimpinan WhatsApp," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara melalui keterangan resmi kepada tribunnews, Rabu (29/5).

Rudiantara menyatakan penutupan akun medsos tersebut dilakukan agar sebaran konten hoaks, fitnah dan provokasi dapat diminimalkan.

Dari 2.184 akun dan situs yang diblokir itu, Rudiantara memaparkan sebanyak 551 akun dari Facebook, 848 akun Twitter, 640 akun Instagram, 143 akun YouTube, satu akun LinkedIn dan satu alamat situs.

Pemerintah memutuskan untuk membatasi akses masyarakat ke medsos dan layanan berbagi pesan mulai 22 Mei 2019. Kemenkominfo menonaktifkan fitur upload foto dan video. Fitur ini kemudian dipulihkan pada 25 Mei 2019.

Baca: Partai Golkar Dukung Pemindahan Ibu Kota RI ke Kalteng, Gubernur Minta Warga Jangan Jual Lahan

Tindakan ini diklaim untuk meminimalisasi dan menghindarkan konflik dipicu informasi hoaks.

"Satu hoaks saja sudah cukup untuk memicu aksi massa yang berujung penghilangan nyawa, seperti salah satunya yang menimpa Mohammad Azam di India pada tahun 2018. Padahal, ada banyak hoaks sejenis itu lalu-lalang di Indonesia setiap hari, apalagi sekitar 22 Mei lalu," ujar Rudiantara.

Menurut Kemkominfo, ada tiga langkah yang dilakukan pemerintah untuk meredam beredarnya hoaks dan misinformasi. Langkah pertama adalah menutup akses tautan konten atau akun yang menyebarkan hoaks.
Kedua, Kemkominfo bekerja sama dengan penyedia platform digital untuk menutup akun. Ketiga, pemerintah melakukan pembatasan akses terhadap sebagian fitur platform digital atau berbagi file.

Sebelumnya Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, Kemenkominfo menemukan 30 kabar bohong atau hoaks yang dibuat selama kerusuhan 22 Mei 2019.

Ia mengatakan, hoaks itu tersebar di semua media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter. " Hoaks ini disebarkan lewat 1932 url. Ada di FB dan Instagram, ada di Twitter. Di Facebook ada 450 hoaks url, Instagram ada 551, di Twitter 784 url dan juga ada di LinkedIn itu semua kita pantau," kata Samuel.

Baca: Status Janda Ayu Ting Ting Tak Hanya Kandaskan Asmara dengan Shaheer Sheikh, Juga Ancam Pekerjaannya

Samuel mengatakan, Kominfo mengawasi penyebaran hoaks serta meminta oknum yang membuat berita hoaks segera menurunkan berita tersebut. "Jadi yang sekarang masih menyebarkan hoaks, saya mohon diturunkan, kalau tidak kami lakukan penegakan hukum," ujarnya.

Pemantauan Kominfo, sejak 21 Mei 2019 media sosial tidak kondusif. Pada tanggal 22 Mei pada pukul 11.00 WIB terjadi pembatasan akses media sosial. "Pembatasan dilakukan pada tanggal 22 Mei jam 11 siang, efektif dilakukan jam 1. Batasannya adalah masyarakat tidak bisa men-download video maupun gambar," tuturnya. (tribun network/zal/kompas.com)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved