Ramadhan 2019

Mutaiara Ramadhan : Sikap Tengah

ALQURAN menekankan perlunya sikap jalan tengah (qawama) di antara dua kutub ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan.

Mutaiara Ramadhan : Sikap Tengah
capture/banjarmasin post
DR Mutohharun Jinan MAG 

Oleh:
Dr Mutohharun Jinan MAg
Direktur Pondok Shabran UMS Solo

BANJARMASINPOST.CO.ID - ALQURAN menekankan perlunya sikap jalan tengah (qawama) di antara dua kutub ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan. Sikap tengah atau proporsionalitas dalam hal antara suka dan benci, evolusi dan revolusi, banyak dan sedikit, antara tampak dan sembunyi. Bahkan dalam sikap beragama juga diindikasikan tidak berlebihan.

Di antara sikap tengah yang disebut eksplisit dalam Alquran adalah dalam hal membelanjakan harta atau berinfak. Dalam membelanjakan harta diingatkan agar tidak kikir dan tidak boros.

Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, "Dan orang-orang yang apabila berinfak, mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (QS Al-Furqan/25: 67).

Pemborosan dan kikir memang dua sifat yang sama-sama tidak menguntungkan bagi pribadi seseorang. Sikap boros (sarf) atau berlebihan dalam pembelanjaan harta menyiratkan adanya kesia-siaan dan berlebihan, melampaui batas dari apa yang seharusnya dilakukan.

Pemborosan merupakan satu bentuk dari ketidakadilan dalam arti tidak menempatkan sesuatu sesuai kebutuhannya. Sedangkan kikir adalah memberi sesuatu kurang dari yang seharusnya diberikan.

Misalnya orang berpenghasilan tinggi di atas upah minimum kota (UMK) berinfak tidak sama dengan orang berpenghasilan rendah jauh dari UMK. Maka kikir mengandung perilaku menyembunyikan dan menumpuk-numpuk harta tanpa mempedulikan pihak lain yang membutuhkan.

Sikap kikir sering mengakibatkan timbulnya kebencian di kalangan masyarakat.

Berinfak dianjurkan di antara keduanya secara wajar (qawama), inilah agama yang pertengahan, moderat, seimbang antara kepentingan individu dan masyarakat. Melalui anjuran bersikap tengahan ini mengandung pengertian agar memandang harta secara proporsional dan manusiawi.

Bagaimanapun manusia itu membutuhkan harta untuk keberlangsungan hidupnya yang layak. Manusia bukanlah makhluk seperti malaikat yang tidak memerlukan sarana dan kebutuhan materi berupa harta benda.
Manusia juga tidak boleh mengikuti rayuan setan yang menggodanya agar tidak berinfak lantaran takut miskin.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved