Ramadhan 1440 H

Mutiara Ramadan Hari ke-28: Hakikat Perbuatan

HAKIKAT perbuatan dalam Islam tidak semata-mata dilihat dari bentuk dan tujuan menurut ukuran penilaian manusia. Retorika yang indah

Mutiara Ramadan Hari ke-28: Hakikat Perbuatan
banjarmasinpost.co.id/net
Ilustrasi : Sedekah 

Dr Mutohharun Jinan MAg, Direktur Pondok Shabran UMS Solo

BANJARMASINPOST.CO.ID - HAKIKAT perbuatan dalam Islam tidak semata-mata dilihat dari bentuk dan tujuan menurut ukuran penilaian manusia. Retorika yang indah, tingkah laku yang baik, menolong dan membantu orang lain, memberi manfaat kepada sesama, dan akhlak mulia lainnya memang sangat ditekankan dan menjadi kewajiban setiap muslim.

Tetapi itu semua belum cukup menjamin kemuliaan seseorang baik di hadapan sesama makhluk, apalagi di hadapan Tuhan. Segenap perbuatan seseorang yang dapat mengantarkannya menjadi pribadi otentik dan bermartabat apabila telah memenuhi kriteria asasi.

Pertama, perbuatan harus didasari niat ikhlas karena mengharap ridha Allah semata. Hadist dari Umar bin Khaththab, beliau berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya setiap orang bergantung dengan apa yang ia niatkan." (HR Bukhari).

Niat dalam hati akan menentukan hasil yang akan diperoleh baik di dunia atau di akhirat. Tanpa niat bisa jadi perbuatan dilakukan seseorang tidak bernilai dan sia-sia.

Kedua, dasar kebaikan dan kebenaran suatu perbuatan adalah dilaksanakan sesuai ketetapan syar'i. Tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan prinsip-prinsip kebaikan lainnya. Dua hal tersebut harus menyatu dalam setiap kata dan perbuatan kaum muslim, dan menentukan apakah perbuatan itu baik atau tidak dan benar atau salah.

Ibadah puasa merupakan ibadah terbaik untuk melatih dan mengukur hakikat perbuatan yang manusia lakukan. Karena puasa ibadah hanya diketahui oleh pelaku dan Tuhan saja. Tidak ada orang lain yang dapat mengetahui kecuali bila orang yang berpuasa itu mengatakannya.

Sebagian orang dalam menganyam kesalehan sosial di masyarakat dan berbangsa menganut falsafah, "Dalam hidup ini yang penting baik kepada sesama, tidak meyakiti orang lain." Tentu saja falsafah ini mengandung kemuliaan dan baik pula menjadi pedoman dalam tata hidup bersama.

Hanya, penganut falsafah ini sering kali rapuh dalam kepribadian dasarnya. Kebaikan yang disandarkan dan ditujukan pada hal-hal bersifat inderawi, material, dan duniawi sering kali mudah luntur.

Karena sandaran itu tidak tetap, kadang ada kadang hilang tidak kembali. Perbuatan-perbuatan yang ditujukan kepada hal-hal biasanya akan hilang bersama yang dituju.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved