Berita Banjarmasin

Kalselpedia : Sejarah Jembatan 9 November Banjarmasin

Pasar Lama atau yang dikenal dengan sebutan Jembatan 9 November, merupakan jembatan bersejarah di Kalsel, dan Banjarmasin pada umumnya.

Kalselpedia : Sejarah Jembatan 9 November Banjarmasin
banjarmasinpost.co.id/jumadi
Jembatan 9 November 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pasar Lama atau yang dikenal dengan sebutan Jembatan 9 November, merupakan jembatan bersejarah di Kalsel, dan Banjarmasin pada umumnya.

Jembatan ini dibangun di era masa Pemerintahan Belanda. Namun hingga kini belum diketahui tahun berapa jembatan itu diresmikan.

Dalam sejarah hanya disebutkan bahwa Jembatan Pasar Lama disebut sebagai Jembatan 9 November.

Seperti disebutkan dalam buku sejarah Kalimantan bahwa, dalam beberapa dokumen, Jembatan Pasar Lama dulu juga dikenal dengan sebutan jembatan ringkap atau Jembatan Coen.

Sebuah jembatan berkonstruksi kayu ulin menghubungkan kawasan Pasar Lama sebagai pusat perdagangan tempo dulu dengan Sungai Mesa atau Seberang Masjid untuk mengenang sang Gubernur Jenderal Belanda keempat, Jan Pieterszoon Coen bertakhta di Batavia, pada 26 Oktober 1617 hingga 21 Mei 1619.

Baca: Open House di Pendopo Undang Warga HSS, Bupati Fikry Isi Idul Fitri dengan Silaturahmi

Baca: Gisel Anastasia Bawa Wijen ke Rumah, Tak Merasa Langgar Peringatan Gading Marten, Ini Alasanya

Baca: Kelakuan Kriss Hatta Selama di Penjara Terungkap, Pria yang Bersoal dengan Billy Syahputra Sebut Ini

Baca: Sosok Misterius Bersama Syahrini dan Reino Barack Berbulan Madu, Suami Incess Ungkap Hal Ini

Hingga akhirnya, jembatan berkonstruksi kayu besi itu, kemudian diganti dengan konstruksi beton, ketika Banjarmasin yang di era Kolonial Belanda ditetapkan menjadi ibukota Borneo.

Juga disebutkan dua jembatan bersejarah, yakni Jembatan Pasar Lama dan Jembatan Sudimampir atau Antasari yang membentang di atas Sungai Martapura itu, masih berdiri kokoh.

Walau usiannya sudah sangat tua dan uzur. Namun fisik kedua jembatan itu sampai sekarang masih terlihat kokoh. Bahkan truk gajah yang membawa kontiner dengan beban 20 ton masih bisa melintasi pada dua jembatan itu

Insinyur yang membangun pada jaman itu, ternyata sudah memikirkan keselamatan badan jembatan, yakni dengan dibuatnya fender jembatan di setiap tiang jembatan di bagian kanan kirinya.

Fungsi fender jembatan adalah untuk melindungi pondasi utama jembatan, agar aman dari benturan kapal, rakit kayu atau tongkang maupun tugboat yang melintas.

Halaman
12
Penulis: Jumadi
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved