Opini

Ibu Ani Yudhoyono dan Indonesia Pintar

ibu Negara RI periode 2004-2014 Ibu Hajjah Ani Yudhoyono kembali ke Ilahi Rabbi dalam usia 66 tahun.

Ibu Ani Yudhoyono dan Indonesia Pintar
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Peti jenazah istri Presiden ke 6 RI, Ani Yudhoyono tiba di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, dari Singapura, Sabtu (1/6/2019). Rencananya almarhumah akan dimakamkan pada hari Minggu (2/6/2019) di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Oleh: AHMAD SYAWQI
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - DI bulan Ramadan 1440 H kita bangsa Indonesia telah kehilangan beberapa tokoh ulama seperti Ustadz Arifin Ilham yang wafat Rabu, 22 Mei 2019 malam di rumah sakit Penang Malaysia dalam usia 49 tahun.

Kemudian Prof. KH Tholchah Hasan, mantan Menteri Agama Era Presiden Gus Dur, wafat di RSSA Malang dalam usia 84 tahun.

Kemudian saat bangsa Indonesia sedang memperingati Hari Lahir Pancasila pada Sabtu 1 Juni 2019, kabar duka dari National University Hospital Singapura pada pukul 11.50 waktu juga wafat Ibu Negara RI periode 2004-2014 Ibu Hajjah Ani Yudhoyono kembali ke Ilahi Rabbi dalam usia 66 tahun.

Mereka semua telah berpulang pada hari baik, bulan mulia, bertepatan juga pada 27 Ramadan 1440 H, di bulan suci bagi seluruh umat Islam di seantero jagad menjalani ibadah puasa.

Dari kepergian mereka semua, termasuk Ibu Ani Yudhoyono, yang menjadi renungan kita semua adalah bahwa kiprah kebaikan mereka selama ini, dengan riwayat hidup, pengabdian dan karyanya yang melimpah, MEREKA sedang mengingatkan kita pada sebuah pepatah “harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”.

Usia mereka dihabiskan untuk kepentingan agama, umat dan bangsa di bidang agama, politik, kebudayaan, dan keilmuan, sehingga membuat nama MEREKA nyaris tanpa cemar.

Baca: Warga Keluhkan Jalan Rusak Lagi Akibat Angkutan Tambang

Baca: Pernah Jabat Kapolda Metro Jaya, Sofyan Jacob Kini Tersangka Dugaan Makar, Begini Sosoknya

Baca: Tahu Anaknya Kerja Keras Menjadi Driver Ojol, Tio Pakusadewo Mengaku Tidak Malu Justru Bangga

Baca: Pernah Alami Krisis Nuklir, Demi Ini Jepang Perbanyak Penggunaan Energi Nuklir

Bagi MEREKA, semua itu adalah amal jariyah yang akan membelanya di hari akhir. Bagi kita, semua itu adalah warisan berharga untuk bekal menjalani masa depan, apalagi tatkala pelbagai persoalan umat datang di kurun yang nyaris bersamaan.

Saya teringat dengan sebuah perkataan dari almarhum Buya Hamka yang isinya menasehatkan “kita sudah mati hancur dikandung tanah tapi kita masih hidup.

Dalam umur yang sekian pendeknya kita lalui didunia, dia bisa kita panjangkan. Dengan apa! Dengan sebutan, dengan amal, dengan bekas tangan.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved