Mereka Bicara

Menggiatkan Budaya Literasi

Eksistensi buku di era digital semakin mengkhawatirkan, seiring mulai sepinya toko-toko buku, ditambah tingginya konsumsi internet di tanah air

Menggiatkan Budaya Literasi
Dari Dispersip Kalsel untuk BPost
Kunjungan Perpustakaan Keliling Palnam Banjarmasin ke PSBR Bina Satria Kalsel 

Oleh: MUH. FAJARUDDIN ATSNAN, MPD, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Eksistensi buku di era digital semakin mengkhawatirkan, seiring mulai sepinya toko-toko buku, ditambah tingginya konsumsi internet di tanah air. Namun, tingginya pertumbuhan konsumsi internet, yang seolah mensubstitusi hadirnya bahan bacaan cetak semisal buku, belum mampu mendongkrak angka daya baca masyarakat Indonesia. Inilah tantangan nyata bangsa kita, untuk membudayakan kembali gairah membaca buku sekaligus mendukung gerakan literasi nasional.

Dimulai dari Keluarga
Ada secuil kebiasaan inspiratif, dari masyarakat di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Ya, masyarakat Sumber Makmur, mendukung penuh agenda pemerintah untuk menggiatkan budaya literasi, melalui kebiasaan positif masyarakatnya yaitu puasa HP/TV/Gadget selama 3 jam (gerakan 18-21), pada jam 18.00-21.00.

Tentulah kebiasaan positif ini pantas ditiru dan dilestarikan guna meningkatkan kualitas keharmonisan dalam keluarga, dimana orangtua bisa menemani anak untuk belajar, mengerjakan PR, mengurangi kecanduan game online, bahkan peredaran narkoba, serta bisa memanfaatkan waktut tersebut untuk membudayakan anak gemar membaca dan menulis.

Kita sepakat bahwa keluarga adalah pintu gerbang dimulainya budaya literasi. Kemampuan orangtua untuk menumbuhkan budaya literasi pada anak sedini mungkin, memiliki andil besar untuk meminimalisir kecanduan anak terhadap game yang ada pada smartphone atau gadget, yang hampir setiap menit bahkan setiap detik diakses terus-menerus. Kreativitas orangtua dalam menumbuhkan budaya literasi di keluarga menjadi kunci utama.

Misalnya, diawali dengan keteladanan. Sifat alamiah anak ketika masih kecil adalah meniru apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Ketika orangtua, menyisihkan waktu sibuknya untuk membaca buku, maka anak-anak akan melihat dan muncul hasrat ingin tahu dan ingin meniru membaca buku.

Lantas, ketika si anak sudah ingin belajar membaca buku, maka orangtua sepantasnya memfasilitasi dengan mengajak anak ke toko buku, kemudian memberikan kesempatan mereka untuk memilih dan membeli buku-buku yang disenanginya. Jangan sampai menjadi orangtua yang gemar menyuruh anak untuk membaca buku, sedangkan mereka (baca: orangtua) tidak jarang membaca buku, dan justru sibuk berselancar di media sosial.

Langkah lain yang bisa diambil orangtua, tentulah kembali membiasakan membacakan dongeng atau cerita sebelum tidur. Kebiasaan positif yang seharusnya kembali dibudayakan. Harapannya jelas, ketika orangtua meninabobokkan anak dengan membacakan dongeng tentang fabel dan semacamnya, ada suatu kebiasaan baik dari orangtua yang akan senantiasa diingat oleh anak.

Budaya Membaca
Idealnya, salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar bisa memenangkan kompetisi dan cepat beradaptasi dengan perkembangan jaman adalah dengan menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca (reading society).

Namun faktanya, sebagian besar masyarakat kita masih menganggap, membaca, sekadar aktivitas yang menghabiskan waktu, bahkan membuang-buang waktu. Sehingga, wajar jika kini, lorong-lorong ruang baca di perpustakaan semakin sepi dari pengunjung.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved