Ekonomi dan Bisnis

Tiket Mahal, Jokowi Mau Undang Maskapai Asing, Jusuf Kalla Sebut 30 Maskapai Bangkrut dalam 20 Tahun

Pemerintah telah menurunkan tarif batas atas tiket pesawat, namun harga jual kepada masyarakat masih dianggap tinggi. Tak pelak Presiden Joko Widodo

Tiket Mahal, Jokowi Mau Undang Maskapai Asing, Jusuf Kalla Sebut 30 Maskapai Bangkrut dalam 20 Tahun
kompas.com
Presiden Joko Widodo 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah telah menurunkan tarif batas atas tiket pesawat, namun harga jual kepada masyarakat masih dianggap tinggi. Tak pelak Presiden Joko Widodo melontarkan wacana untuk mengundang maskapai asing masuk Indonesia agar harga tiket turun.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai wacana itu bukan solusi. “Sudah masuk maskapai asing AirAsia. Itu kan asing dari Malaysia. Tapi juga tidak sanggup bersaing di Indonesia. Jadi masuknya maskapai asing bukan solusi,” kata Kalla di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (11/6).

Kalla menceritakan, dulu saat pulang ke kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan, dia menggunakan maskapai AirAsia. Namun kini, AirAsia tak lagi melayani rute Jakarta-Makassar. “Sekarang AirAsia bergerak hanya ke Bali. Jadi tidak sanggup juga bersaing,” ungkap Kalla.

Menurutnya, tingginya harga tiket pesawat dipengaruhi sejumlah faktor internal dan eksternal yakni biaya perawatan tinggi, pembelian pesawat, bahan bakar, serta suku cadang yang dibeli menggunakan mata uang dolar AS. “Hanya gaji pilot yang rupiah,” ungkapnya.

Baca: Jadwal Seleksi Sekolah Kedinasan 2019 Resmi Dari BKN, Simak Juga Penjelasan Tahapan Seleksinya

Baca: Tiket Mahal, Bandara Tjilik Riwut Sepi, Penumpang Kapal Laut di Kalteng Meningkat 12, 48 Persen

Baca: Tiket Mahal, Pemudik Lewat Syamsudin Noor Berkurang Drastis

Baca: Tiket Pesawat Mahal, Warga Sampit Pilih Mudik Lewat Kapal Laut, Kebanyakan Mahasiswa Kuliah di Yogya

Menurut Kalla, jika harga tiket tidak disesuaikan akan merugikan maskapai. Ia mencatat ada sekitar 30 perusahaan penerbangan yang terpaksa gulung tikar karena rugi selama 20 tahun belakangan.

“Otomatis kalau tarif tidak naik, bangkrut semua. Sekarang kalau kita biarkan bisa-bisa Garuda rugi, Lion juga rugi. Kalau mau diturunkan lagi tambah rugi dia, bisa-bisa pesawat terbang semua tidak jalan,” ucapnya.

Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut satu faktor tingginya harga tiket karena inefisiensi maskapai nasional. “Soal efisiensi sekarang sudah diperbaiki,” ujarnya di Jakarta, Selasa (11/6).

Ia memastikan, pemerintah tidak berdiam diri dan terus berupaya mencari jalan keluar tanpa harus mengorbankan masyarakat dan juga maskapai penerbangan nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang angkutan udara domestik pada periode Januari-April 2019 juga merosot 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 23,98 juta. (tribunnetwork/rey/rin)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved