BPost Cetak

Mengunjungi Perajin Alat Musik Dayak di Gunungmas, Kecapi Harmuda Sampai ke Selandia Baru

Musik karungut merupakan musik khas Suku Dayak Kalimantan Tengah.Biasanya diperdengarkan pada acara-acara adat termasuk saat menyambut tamu kehormatan

Mengunjungi Perajin Alat Musik Dayak di Gunungmas, Kecapi Harmuda Sampai ke Selandia Baru
(banjarmasinpost.co.id/faturahman)
Harmuda atau yang akrab dipanggil, Uda atau Damang (45) warga Gunungmas, Kalteng dikenal sebagai pengrajin kecapi khas Kalteng. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Musik karungut merupakan musik khas Suku Dayak Kalimantan Tengah. Biasanya diperdengarkan pada acara-acara adat termasuk saat menyambut tamu kehormatan.

Lagu yang dibawakan merupakan lagu berbahasa Dayak. Sedangkan alat musik utamanya adalah kecapi.

Bentuk kecapinya tidak sama dengan bentuk kecapi kebanyakan. Alat musik petik khas Dayak ada beberapa bentuk yang unik.

Seperti berbentuk burung enggang, hewan sakral bagi masyarakat Dayak. Bentuk lainnya seperti berupa naga, bunga, kepala semut dan belalang. Warnanya dan coraknya pun khas warna Dayak sehingga terlihat unik.

Bahannya utamanya berupa kayu ringan yang berasal dari pohon Hanjalulung. Sedangkan dua dawai atau senarnya yang berjumlah dua menggunakan bahan dari kawat dan nilon.

Baca: Sanksi 15 ASN di TanahbumbuTunggu Hasil Sidang Tim, Gara-gara Tidak Masuk Kerja Usai Cuti Lebaran

Baca: Begini Reaksi Maudy Koesnaedi Saat Lihat Respon Penonton Si Doel The Movie 2, Ingat Masa Lalu

Baca: Umur 93 Tahun, Dr Mahathir Mohammad Tetap Energik, Ini Rahasia Diungkap Perdana Menteri Malaysia

Baca: Gading Marten Dijodohkan dengan Putri Menteri Susi, Roy Marten : Nggak Ngebayangkan Besanan Menteri

Dahulu dawai dibuat dari rotan atau kulit kayu karena lebih tahan lama, kuat dan memiliki suara yang khas. Namun kini kecapi Dayak mengikuti perkembangan zaman.

Itulah yang dilakukan perajin kecapi Dayak di Kabupaten Gunungmas yakni Harmuda yang akrab dipanggil Uda atau Damang (45). Dia memang sangat dikenal warga Kalteng sebagai perajin kecapi Dayak.

Harmuda menyenangi suara kecapi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas IV pada 1984. Kesenangan ini juga diwujudkannya dengan rajin membuat kecapi.

Pada 2007, ada beberapa orang yang memintanya membuat kecapi untuk persiapan mengikuti Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tingkat Kabupaten Gunungmas. Seiring waktu, semakin banyak yang memesan.

Untuk membuat satu kecapi, Harmuda memerlukan waktu paling lama tiga hari, mulai dari mencari bahan baku, mengolah, mengukir hingga selesai.

Halaman
12
Penulis: Fathurahman
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved