Opini

Pengelolaan Bentang Alam Terpadu

Bencana Banjir di Kalimantan Selatan secara konsisten terus terjadi setiap tahun pada musim penghujan.

Pengelolaan Bentang Alam Terpadu
banjarmasinpost.co.id/man hidayat
Banjir yang melanda di wilayah Kabupaten Kotabaru akibat hujan yang mengguyur daerah tersebut menyebabkan lebih 100 rumah terendam banjir. 

Oleh: Akhmad Fauzi
Koordinator Program Landscape Barito Hulu dan Government Laision
Borneo Nature Foundation

BANJARMASINPOST.C.ID - Bencana Banjir di Kalimantan Selatan secara konsisten terus terjadi setiap tahun pada musim penghujan.

Namun, upaya mitigasi atau praktik untuk mengurangi resiko apalagi mencegah bencana sangat sulit untuk di laksanakan, karena banjir tidak sebatas air meluap karena tingginya intensitas curah hujan, melainkan ketidakmampuan manusia dalam memperbaiki tata kelola hutan dan menilai aset alam atau jasa lingkungan yang sering tidak di hitung dalam proses perencanaan pembangunan.

Pada tataran media sosial, pembahasan sangat menarik saat banjir sedang berlangsung di Kabupaten Kotabaru dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Tanah Bumbu seperti di beritakan Bpost (9/19/2019).

Sebaliknya, mendiskusikan lebih awal tentang kehutanan dan efisiensi penggunaan lahan, investasi yang masih terpaku pada pola-pola konvensional seperti perluasaan kegiatan yang menghabiskan sumber daya alam, kurang dihargainya sumber daya alam dan jasa lingkungan adalah pekerjaan rumah yang sebenarnya menunjukkan kesiapan mengantisipasi bencana.

Upaya pencegahan banjir sangat rumit karena tak hanya sekedar evakuasi korban ataupun mendirikan posko tanggap darurat, juga terletak pada pendekatan sistematis kebijakan pemerintah yang efektif untuk melindungi lingkungan, keterlibatan pihak swasta yang secara konsisten berpindah kepada bisnis yang lebih bersih, dan pertumbuhan yang lebih inklusif atau keadilan untuk semua warga, serta teknologi baru.

Pengelolaan kehutanan, sumber daya alam dan penggunaan lahan di Kalimantan Selatan cenderung berjalan di tempat pada beberapa hal.

Pertama, ketika terjadi musim penghujan yang mengakibatkan banjir, pemerintah hanya berfokus pada upaya evakuasi, memberikan sembako dan mendirikan posko tanggap darurat.

Kenyataanya, banjir sering terjadi ketika ekspansi kegiatan ekstraktif di bagian hulu, deforestasi dan praktik yang tidak berkelanjutan di sektor kehutanan dan penggunaan lahan merupakan masalah yang saat ini dihadapai oleh Kalimantan Selatan yang menyebabkan ketidakstabilan infrastruktur, sedimentasi sungai yang terkait peningkatan banjir.

Pendekatan Bentang Alam Terpadu

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved