Nostalgia Barang Antik dari Masa ke Masa

Piringan Hitam Kini Diburu Pencinta Barang Antik, Lebih Oke Suaranya

Piringan hitam atau vinyl sebuah Perekam audio era th 50 sd 70-an yang legendaris. sekarang mulai diburu sebagai barang antik ini.

Piringan Hitam Kini Diburu Pencinta Barang Antik, Lebih Oke Suaranya
Banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Piringan hitam menjadi benda antik yang diburu pencinta barang antik 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Zaman terus berganti, semua memberi kenangan tersendiri bagi tiap pribadi. Salah satu penanda zaman adalah produk yang popular pada masa itu.

Bagi beberapa orang menyimpan barang lama atau produk jadul sangat memberi arti bagi perjalanan hidupnya. Ya, orang memandang itu antik tapi banyak kesan bagi sang pemilik atau kolektor.

Sebagaimana piringan hitam atau vinyl. Perekam audio era th 50 sd 70-an yang legendaris. Bahkan generasi milineal sekarang mulai memburu barang antik ini.

Alat pemutarnya yaitu gramophone atau yang lebih modern di zaman itu, turntable juga sudah ada diproduksi model terkini.

Piringan hitam adalah piringan dengan diameter sekitar 40 cm yang digunakan untuk memutar lagu di gramofon. Piringan hitam dipatenkan oleh Léon Scott pada 1857 dan mulai digunakan pada 1948.

Baca: Instagram Down Kembali Jelang Sidang MK Hari Ini, Bagaimana dengan WhatsApp dan Facebook?

Baca: Polisi Sebut Tersangka Teroris Jaringan JAD Bisa Bertambah

Baca: MUI Kalteng Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Terorisme

Baca: Prada DP Dikabarkan Ditangkap, Begini Reaksi Sepupu Vera Oktaria di Akun Medsos

Ada tiga ukuran piringan hitam dalam hitungan rpm (rotation per minute) yaitu 78, 45, 33 1/3. Maksudnya adalah, setiap satu menit piringan hitam itu berputar sebanyak angka yang menjadi ukurannya (78, 45, 33 1/3) tersebut.

Piringan hitam 78 dan 45 untuk plat berdiameter 25 cm, sedangkan 33 1/3 untuk plat berdiameter 30 cm. Semakin besar diameter platnya, semakin kecil ukuran untuk memutarnya.

Piringan hitam mulai digunakan di Indonesia sekitar tahun 1957. Perusahaan rekaman memproduksi piringan hitam zaman itu Lokananta di Solo dan Irama di Jakarta.

Tubagus, kolektor barang antik di Banjarbaru, menjelaskan, ia masih menyimpan sejumlah piringan hitam warisan ayahnya.

"Ketika piringan hitam ini booming di tanah air, saya masih kecil. Dan almarhum ayah dulu suka memutar piringan hitam menggunakan turntable yang juga masih ada sampai kini tapi kondisinya rusak," terangnya.

Piringan hitam yang masih tersimpan antara lain lagu-lagu Ellya Kadam, Titik Sandhora dan Muchin Alatas, Titik Puspa, Oma Irama dan beberapa piringan hitam lagu anak-anak.

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved