Sosok Cantik Cewek Banjar PUBG Mania

Awas Efek Dopamine pada Game PUBG Jangan Sampai Kecanduan, Begini Kata Pakar IT

Salah satunya, game paling populer saat ini Players Unknown Battleground (PUBG) yang tersedia baik versi PC maupun Mobile.

Awas Efek Dopamine pada Game PUBG Jangan Sampai Kecanduan, Begini Kata Pakar IT
istimewa/andi riza
Pakar IT Andi Riza 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bermain game online adalah aktifitas yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Salah satunya, game paling populer saat ini Players Unknown Battleground (PUBG) yang tersedia baik versi PC maupun Mobile.

Hal ini disampaikan Pengamat Siber dan pakar IT Kalsel Andi Riza, juga dikatakannya Game bergenre Battle Royal ini mengadu taktik dan skill pesertanya untuk bertahan hidup di sebuah pulau tertentu. Pemenang adalah orang terakhir yang masih hidup. Tipe game First-Person Shooter ini menarik bagi segala kalangan dan usia, baik yang muda, tua, pria maupun wanita.

"Seperti layaknya game online, hal yang menarik adalah keseruan tantangan dan persaingan. Apalagi dengan kemudahan akses dimanapun dan kapanpun dengan hanya menggunakan gadget mobile. Ini adalah efek dopamine, dimana orang akan terus bermain untuk menyelesaikan tantangan, memenangkan penghargaan, hadiah, bahkan sekedar unjuk kebanggaan ke pemain yang lain saat namanya terpampang di papan skor," katanya.

Baca: Main PUBG Sejak Pulang Kuliah Sampai Tengah Malam, Maria Suka PUBG karena Ada Interaksi

Baca: Kepuasaan Putri Raih Winner Winner Chicken Dinner Saat Memenangkan PUBG

Baca: Putri Beberkan Rahasia Skill Tempur Bermain PUBG, Sebut Teammate Juga Harus Kompak

Koordinator Sub Sektor Teknologi Informasi Kalsel Kreatif Forum ini juga mengatakan Efek Dopamine sebenarnya hal yang baik, menstimulus otak bagian proses visual, pengelolaan perhatian, fungsi motorik, dan integrasi sensomotorik. "Tapi jika sampai kecanduan, ini persoalan yang serius," katanya.

Menurut dia, Organisasi Kesehatan PBB, WHO menetapkan kecanduan game sebagai penyakit gangguan mental yang disebut Game Disorder. Pemain akan menerima dampak negatif, mulai dari kehidupan antisosial, mengurangi rasa empati, sampai ke cacat fisik penyusutan volume otak.

Beberapa kasus game disorder berakhir dengan kematian pemainnya. Lantas bagaimana mengatasi game disorder? Batasi waktu bermain game, khususnya untuk anak. Disebutkannya Beberapa penelitian seperti dari Oxford University yang dipimpin oleh Andrew Przybylski serta Jurnal Dr. Jesus Pujol MD, menyimpulkan bahwa waktu bermain yang efektif bagi anak adalah maksimal 1 jam per hari.

Jika bermain 3 jam atau lebih, sudah masuk ke kecanduan game yang kemungkinan berdampak negatif ke kehidupan anak. Khusus untuk PUBG, beberapa kontroversi ikut mencuat. Diantaranya efek negatif alur game yang isinya saling membunuh sesama manusia. Dikhawatirkan hal ini akan memicu tindak kejahatan dan kekerasan.

Baca: Vergie Andalkan iPhone XS Max Agar Mulus dan Nyaman Main PUBG

Baca: Kenalkan ini Vergie Cewek Banjar Berparas Cantik yang Sanggup Main PUBG 15 Jam Sehari

Dikatakannya lebih lanjut, Insiden penembakan massal di Selandia Baru di sinyalir akibat pengaruh game berlatar kekerasan semacam ini. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertimbangkan untuk mengeluarkan fatwa haram PUBG dan sejenisnya. Maka, Orang Tua sebaiknya bijaksana.

"Hindarkan game-game yang tidak sesuai dengan umur anak, apalagi yang mengandung unsur negatif seperti kekerasan dan konten dewasa. Yang kedua, batasi waktu bermain, cukup maksimal 1 jam perhari. Hindari memberi gadget dengan akses tanpa batas. Gunakan waktu bermain anak untuk bersosialisasi baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman sepermainannya," katanya.

(banjarmasinpost.co.id/niakurniawan)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved