Ekonomi dan Bisnis

Komoditas Pangan Ini Bikin Kalsel Tempati Posisi Kedua Inflasi Tertinggi se Kalimantan

Hal ini membuat Kalsel menempati posisi kedua tertinggi tingkat inflasi setelah Kalimantan Utara (Kaltara) sebesar 5,33 persen.

Komoditas Pangan Ini Bikin Kalsel Tempati Posisi Kedua Inflasi Tertinggi se Kalimantan
banjarmasinpost.co.id/mariana
Pemaparan KPw BI Kalsel mengenai pertumbuhan perekonomian di Kalsel, Selasa (18/6/2019). Mariana. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Realisasi inflasi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai 4,7 persen year on year (yoy) pada Mei 2019. Tingkat inflasi tersebut naik dari April 2019 sebesar 4,01 persen. Hal ini membuat Kalsel menempati posisi kedua tertinggi tingkat inflasi setelah Kalimantan Utara (Kaltara) sebesar 5,33 persen.

Data tersebut dipaparkan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Kalsel, Herawanto beserta staf BI Kalsel lainnya dalam acara temu wartaawan mengenai perkembangan perekonomian Kalsel periode Mei 2019 di KPw BI Kalsel, Selasa (18/6/2019).

"Komoditas pangan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Kalsel, yakni daging ayam ras, telur ayam ras, ikan gabus, bawang merah dan ikan nila yang mana hal ini menjadi tren setiap menyambut hari besar keagamaan nasional (HKBN) selama beberapa tahun berturut-turut," jelasnya.

Tidak hanya lima komoditas pangan tersebut, sejumlah bahan pokok yaitu bawang merah, beras, bawang putih, ikan bakar, dan beras turut berkontribusi dalam meningkatkan inflasi tahun ini.

"Realisasi inflasi Kalsel lebih tinggi dari nasional sebesar 3,32% (yoy).

Baca: Perlu Kajian Guna Memulangkan Tengkorak Demang Lehman dari Museum Leiden Belanda ke Banua

Juni 2019 diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan dengan Mei 2019 terutama bersumber dari dampak
kestabilan pasokan akibat normalnya cuaca yang juga memperlancar distribusi dari komponen pangan," terangnya.

Terkait pertumbuhan ekonomi di Kalimantan pada triwulan I-2019 tercatat sebesar 4,08 persen (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya sebesar 5,78 persen (yoy).

Senada, Kalsel juga alami perlambatan pertumbuhan disebabkan kinerja sektor pertambangan khususnya batubara. Terkait perlambatan permintaan dari Tiongkok yang salah satunya disebabkan oleh masih tingginya cadangan stok negara tersebut.

Baca: Air Curah Penggunaan ke SPAM dari PDAM Intan Banjar Rata-rata Per Bulan 372.186 m3

Ditambahkannya, dari sisi permintaan, investasi Kalsel tercatat tumbuh 7,69 persen (yoy) melambat dari triwulan sebelumnya 9,39 persen (yoy), dari segi konsumsi rumah tangga melambat 4,21 persen (yoy) sebelumnya 4,77 persen (yoy), konsumsi pemerintah meningkat 3,62 persen (yoy) tumbuh sebesar 0,11 persen (yoy) dibanding sebelumnya.

"Ekspor Kalsel meningkat 3,37 persen (yoy) dibanding sebelumnya, dan untuk impor Kalsel tumbuh 4,97 persen (yoy) meningkat sebelumnya 1,61 persen (yoy)," imbuhnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved