Berita Nasional

Kapal Pencuri Ikan yang Ditangkap Bertambah, Malaysia Paling banyak, Lalu Vietnam dan Filipina

Kapal Pengawas Perikanan Hiu 03, Selasa (18/6/2019) kemarin, menangkap sebuah kapal ikan asal Malaysia di Selat Malaka.

Kapal Pencuri Ikan yang Ditangkap Bertambah, Malaysia Paling banyak, Lalu Vietnam dan Filipina
ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSA
Kapal patroli TNI AL melintasi belasan kapal nelayan Vietnam sesaat sebelum ditenggelamkan di Pulau Datuk, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (4/5/2019). Kementerian Kelautan dan Perikanan menenggelamkan 13 dari 51 kapal nelayan asing asal Vietnam yang ditangkap karena mencuri ikan di Perairan Indonesia. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kapal Pengawas Perikanan Hiu 03, Selasa (18/6/2019) kemarin, menangkap sebuah kapal ikan asal Malaysia di Selat Malaka.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementeria Kelautan dan Perikanan Agus Suherman menjelaskan, aksi penangkapan bermula dari kecurigaan awak KP Hiu 03 terhadap sebuah kapal yang tidak berbendera.

"Kecurigaan petugas, kapal itu melakukan ilegal fishing di 1 mil masuk ke perairan Indonesia," ujar Agus melalui siaran pers, Rabu (19/6/2019).

Benar saja, rupanya ketika didatangi, kapal itu sedang melakukan penangkapan ikan. Petugas pun melakukan pemeriksaan, baik terhadap awak hingga seisi kapal.

Kapal itu diketahui bernama PKFA 7751. Kapal diawaki oleh empat orang yang seluruhnya berkewarganegaraan Myanmar.

Baca: Pemeriksaan IVA Gratis, Yayasan Suaka Ananda Sentuh Masyarakat Menengah Bawah Peduli Kanker Serviks

Baca: Rahasia Syahrini yang Menutup Kepalanya Saat Liburan Terbongkar, Istri Reino Barack Ungkap Alasan

Baca: Pengacara Sebut 2 Anggota Komisi B DPRD Kalteng Terjerat Korupsi karena Turuti Perintah Atasan

Kapal tidak mengibarkan bendera negara mana pun. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dokumen, kapal itu berasal dari Malaysia.

Petugas juga menemukan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah Indonesia, yakni trawl.

"Jadi, pelanggaran yang dilakukan kapal ini, adalah menangkap ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) tanpa dilengkapi dokumen perizinan dan menggunakan alat penangkapan ikan trawl," lanjut Agus.

Kegiatan itu diduga melanggar Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp20 miliar.

"Selanjutnya, kapal dan seluruh awak kapal dibawa ke Pangkalan PSDKP Batam Kepulauan Riau dan akan dilakukan penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan," tambah Agus.

Penangkapan tersebut menambah jumlah kapal ikan asing (KIA) yang berhasil ditangkap KKP sejak Januari hingga Juni 2019 menjadi total 34 KIA, yang terdiri dari 15 kapal Vietnam, 16 kapal Malaysia, dan 3 kapal Filipina.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved