Opini Publik

Metode Profetik Guru Sekumpul

Ketika mengajukan proposal penelitian disertasi pada 2011, seseorang bertanya: Kenapa Pak Ersis tertarik meneliti tentang Guru Sekumpul?

Metode Profetik Guru Sekumpul
Humas Pemkab Banjar/Yani
Pelaksanaan Haul ke-14 KH Zaini Abdul Ghani atau dikena Abah Guru Sekumpul di Mushala Ar-Raudah Sekumpul Martapura yang puncaknya pada Minggu (10/3) sehabis Salat Maghrib berjalan lancar. 

Oleh: ERSIS WARMANSYAH ABBAS, Kepala Pusat Kajian Pengembangan dan Pelayanan Pendidikan ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ketika mengajukan proposal penelitian disertasi pada 2011, seseorang bertanya: Kenapa Pak Ersis tertarik meneliti tentang Guru Sekumpul? Pertanyaan tersebut saya jawab ”memutar”:

Pada kisaran 1990, saya ikut mertua (Mardani dan Salmah) berjualan aneka kuliner Banjar di kompleks Sekumpul pada pengajian Sabtu dan Minggu. Puluhan ribu orang fokus menerima hikmah-hikmah Guru Sekumpul.

Bertahun-tahun hal tersebut berlanjut sampai Guru Sekumpul didera sakit. Penulis terenyuh dengan keistiqamahan Guru Sekumpul. Sakit bukan penghalang berbagi. Pengajian tetap berlangsung.

Ketika Guru Sekumpul akan berobat ke RSUD Ulin atau ke Surabaya, jemaah tercenung. Sedih. Air mata mengalir.
Bandingkan dengan di kelas atau ruang kuliah. Bila guru atau dosen berkata: ”Pukul 10.00 kelas dibubarkan sebab ada rapat guru dengan Komite Sekolah atau seorang dosen memberi tahu, minggu depan kuliah libur karena Bapak akan mengikuti pelatihan ke Jepang”, apa reaksi murid atau mahasiswa? Horeeeee. Ada yang mendekap dada: Alhamdulillah. Senang alang kepalang. Lega. Bahagia.

Kegembiraan murid atau mahasiswa manakala kata libur diucapkan guru atau dosen berkebalikan dengan jemaah pengajian Guru Sekumpul yang berwajah sedih dan sendu.

Ketika membimbing Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mahasiswa calon guru saya goda: ”Apa perbedaan suasana pengajian Sekumpul dengan suasana kuliah?” Biasanya mahasiswa diam.

Kelas atau ruang kuliah adakalanya menjelma menjadi ruang tidak menyenangkan, bahkan bisa menakutkan. Agar tidak dilanda ketegangan saya goda mahasiswa: “Kecuali kelas saya he he he”. Setelah terlihat wajah gembira mahasiwa, godaan ditingkatkan: ”Guru Sekumpul menjadikan medan pembelajaran bak suasana surga, dan karena itu, bila kalian kelak menjadi guru, jangan pernah menjadikan ruang kelas bak neraka”.

Pendidikan Karakter
Pendidikan merupakan proses belajar yang berfungsi sebagai pembentukan karakter. Pembentukan karakter dimaksudkan agar peserta didik melakukan perubahan ke arah lebih baik dengan pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Apapun itu, pendidikan, begitu teorinya, sepanjang masa memerlukan pembaharuan, baik konsep maupun praktiknya.

Karena itu, sangat tepat manakala pendidikan formal, mengadopsi atau setidaknya mengambil ”pelajaran” dari apa yang dipraktikkan Guru Sekumpul. Guru Sekumpul menyajikan pembelajaran (pengajian) bermakna, terintegrasi, berbasis nilai, menantang, dan menjadikan jemaah aktif belajar. Pendidikan berbasis dakwah, ‘amar ma’ruf nahi mungkar’.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved