Berita HSS

Warga Mengeluh SPBU di Kandangan Sering Tutup, Ini Diduga Salah Satu Penyebabnya

SPBU yang biasanya melayani warga kota Kandangan berlokasi di Sungai Kudung yang letaknya di dekat persimpangan jalan by pass.

Warga Mengeluh SPBU di Kandangan Sering Tutup, Ini Diduga Salah Satu Penyebabnya
banjarmasinpost.co.id/hanani
Salah satu POM Mini di Kandangan, Hulu Sungai Selatan yang menjual lengkap jenis semua bahan bakar minyak. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Warga Kandangan, Hulu Sungai Selatan mengeluhkan seringnya SPBU di sekitar kota Kandangan tutup. SPBU yang biasanya melayani warga kota Kandangan berlokasi di Sungai Kudung yang letaknya di dekat persimpangan jalan by pass.

Pantauan BPost, sepekan terakhir SPBU tersebut tak terlihat buka pagi, siang maupun sore.  Pagar depan SPBU selalu tertutup, dan tak ada aktivitas pelayanan pembeli.

“Dulu masih lumayan, walaupun jam bukanya sebentar masih bisa saja beli BBM di SPBU. Sekarang kalau siang, jarang terlihat buka. Entah pukul berapa ada pelayanan pembeli umum, saya juga tidak tahu. Soalnya sering bolak balik memantau apakah buka aau tidak, untuk bisa beli di SPBU, ternyata tak buka,”ungkap Rahayu warga Jalan Al Falah, Kandangan.

Selain SPBU di Sungai Kudung tersebut SPBU di wilayah Kota Kandangan lainnya yang terletak di pinggir jalan nasional, adalah SPBU di Jalan Jenederal Sudirman, Desa Tibung.

Setiap hari, SPBU tersebut tetap operasional, namun selalu antre. Tiap hari, antrean mobil pribadi maupun angkutan umum serta pembeli berjireken memadati SPBU tersebut.

“Giliran antreannya sudah sepi, premium dan pertalitenya habis. Tinggal pertamax. Padahal, ingin menghemat pengeluaran dengan membeli premium,”ungkap salah satu guru honor dari Kandangan, yang tiap hari mengajar di salah satu desa terpencil.

Dia mengakui, penjual BBM di Pertamini atau Pom Mini bertebaran, sehingga untuk ketersediaan mudah saja dicari. Hanya saja, harganya jauh lebih mahal karena sama dengan harga pengecer yang berjualan menggunakan botol atau jiriken.

“Bagi yang gajinya besar, mungkin tak masalah beli di POM Mini. Bagi saya, selisih 1.000 rupiah cukup menguras kantong, karena pulang pergi tiap hari memerlukan BBM,”imbuhnya. Hal tersebut, juga di keluhkan pedagang sayur keliling, yang biasa berjualan sayur menggunakan sepeda motor keliling kampung.

“Dulu sebelum banyak Pom Mini, mudah saja membeli di SPBU, baik bensin, maupun pertalite. Sekarang, susah mendapatkan bensin bersubsidi, sesulit membeli gas elpiji tiga kilogram,”tutur pedagang sayur keliling, Amang.

Maraknya Pom Mini di HSS, diduga membuat persediaan BMM cepat habis, sehingga tak bisa lagi melayani masyarakat umum yang hendak membeli ke SPBU dengan harga standar yang ditetapkan pemerintah pusat.

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved