BPost Cetak

Sungai Amandit dan Riam Kiwa Diduga Tercemar Penambangan Liar, Warga Jelatang Minum Air Berlumpur

Keruhnya air Sungai Amandit di Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Sungai Riam Kiwa di Kabupaten Banjar dikeluhkan warga.

Sungai Amandit dan Riam Kiwa Diduga Tercemar Penambangan Liar, Warga Jelatang Minum Air Berlumpur
Capture BPost Cetak
BPost Edisi Jumat (21/06/2019) kondisi Sungai Amandit diduga tercemar limbang tambang liar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Keruhnya air Sungai Amandit di Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Sungai Riam Kiwa di Kabupaten Banjar dikeluhkan warga. Masyarakat pun menuding bahwa kondisi ini akibat aktivitas penamba­ngan liar.

Masyarakat Desa Jelatang, Kecamatan Padang Batung, HSS paling merasakan dampak keruhnya Sungai Amandit.

Padahal warga Jelatang sebelumnya menjadikan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kini sudah tak bisa lagi kecuali terpaksa.

“Tidak bisa dimanfaatkan, rigat banar (sangat kotor, red), keruh bertanah dan berbau,” ucap warga Jelatang, Wahyu.

Wahyu, mengatakan warga hanya bisa memandang air sungai yang keruh.

Baca: Nasib Pusat Anyaman di Margasari Hulu, Hamdah Tak Lagi Dapat Pesanan dari Jepang

Baca: Ada SDN di Banjarmasin Nol Siswa

Baca: Allah Yarham Ustadz Arifin Ilham

Baca: Ini Penyakit Gugun Gondrong Hingga Dioperasi di Singapura, Ternyata Bukan Tumor Otak, Ini Gejalanya

“Warna air sungai seperti air kopi pekat. Warga yang berduit pilih beli air galon,” ujarnya.

Bagi yang masyarakat yang hidupnya pas-pasan, tambahnya, mau tidak mau tetap menggunakan air bau dan keruh itu.

“Tapi sebelum dipakai air sungai didiamkan selama dua hari. Itu pun air masih berbau lumpur. Bila mandi rasa tidak bersih, rasa berminyak. Bila betatapas baju tidak bersih,” tambahnya.

Wahyu menceritakan keruhnya air sungai Amandit ini sudah terjadi sekitar satu tahun lalu. “Kadang-kadang air sungai bersih. Tapi itu hanya 3-4 hari, kemudian keruh lagi,” ujarnya.

Keruhnya air sungai Amandit menurut mereka berasal dari aktivitas penambangan batu bara yang dilakukan beberapa perusahaan dan pertambangan liar.

Halaman
1234
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved