Ekonomi dan Bisnis

AS Blacklist Lagi Perusahaan China, Setelah Huawei Kini Giliran Superkomputer Ini Kena Sial

Setelah membatasi ruang bisnis Huawei, Departemen perdagangan Amerika Serikat kembali merinci batasan baru pada perusahaan AS

AS Blacklist Lagi Perusahaan China, Setelah Huawei Kini Giliran Superkomputer Ini Kena Sial
Jack Dongarra/ Top500
Superkomputer Sunway TaihuLight milik China yang terpasang di National Supercomputing Center, kota Wuxi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setelah membatasi ruang bisnis Huawei, Departemen perdagangan Amerika Serikat kembali merinci batasan baru pada perusahaan AS yang melakukan bisnis dengan 5 perusahaan pembuat superkomputer China. Pembatasan ini akan mulai berlaku hari Senin (24/6/2019)

Dikutip dari CNN, Minggu (23/6/2019), Departemen Perdagangan AS mengatakan pihaknya memasukkan Wuxi Jiangnan Institute of Computing Technology and Sugon, dan tiga entitas yang terikat dengan Sugon di daftar hitam. Sama seperti Huawei, alasannya masih soal mengancam keamanan nasional.

Departemen Perdagangan AS mengatakan, 5 perusahaan China ini menggunakan superkomputer dan komponen buatannya untuk keperluan militer dan nuklir. Nantinya, Perusahaan AS tidak akan dapat mengekspor komponen ke lima perusahaan yang terdaftar tanpa lisensi.

Sugon merupakan penyedia utama pusat data dan superkomputer di Cina, dan salah satu produsen sistem komputer terkemuka di dunia.

Baca: Kepala Demang Lehman Masih Ditawan Belanda Sampai Saat Ini, Jadi Nama Stadion di Kabupaten Banjar

Baca: VIDEO Keren Aksi Cetak Gol Tanpa Melihat Roberto Firmino saat Laga Peru Vs Brasil

Baca: Vokalis Pink Floyd David Gilmour Raup Rp 297 Miliar Setelah Jual 126 Gitarnya

Di situs webnya, Sugon mengatakan telah memberikan dukungan teknis untuk kemajuan penelitian ilmiah fundamental Tiongkok, peralatan ilmiah yang signifikan, dan pengembangan industri.

Untuk melakukan dukungan itu, Sugon membeli komponen komputer dari perusahaan Amerika Serikat termasuk Intel (INTC), Nvidia Corp (NVDA), dan AMD (AMD).

Pada tahun 2016, AMD menandatangani usaha patungan dengan perusahaan induk asal China yang sebagian dimiliki oleh Sugon. Kemitraan tersebut akhirnya membentuk dua entitas yang terpisah, yaitu Sirkuit Terpadu Chengdu Haiguang dan Teknologi Mikroelektronika Chengdu Haiguang.

Sebagai bagian dari kemitraan, AMD juga melisensikan kekayaan intelektual untuk teknologi microchip kepada perusahaan asal China tersebut, yang menggunakannya untuk mengembangkan chip untuk server yang dijual di China.

Chip tersebut akhirnya berkontribusi untuk produksi dalam negeri untuk barang-barang teknologi tinggi atau dikenal dengan istilah Made in China 2025 yang tengah China prioritaskan.

Pada tahun 2018, AMD memperoleh 86 juta dollar AS karena lisensi kekayaan intelektualnya berdasarkan kesepakatan dengan perusahaan tersebut.

Kendati akan membatasi ruang bisnis 5 entitas asal China, masih belum jelas bagaimana kerjasama lisensi intelektual tersebut mendorong keputusan Departemen Perdagangan AS.

"Kami saat ini sedang mengevaluasi masuknya entitas baru ke daftar hitam oleh Biro Perindustrian dan Keamanan," kata seorang juru bicara AMD dikutip dari CNN, Minggu (23/6/2019).

"AMD akan mematuhi peraturan tersebut, sama seperti kita telah mematuhi undang-undang AS hingga saat ini. Kami sedang meninjau secara spesifik perintah untuk menentukan langkah selanjutnya terkait dengan usaha "patungan kami" di Cina," tambah sumber tersebut.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved