Berita Kabupaten Banjar

Kepala 'Demang Lehman' Masih Ditawan Belanda Sampai Saat Ini, Jadi Nama Stadion di Kabupaten Banjar

Jika menyebut nama Demang Lehman, sepertinya masih belum banyak masyarakat Indonesia yang mengenalnya, kecuali sebagian pecandu olahraga khususnya

Kepala 'Demang Lehman' Masih Ditawan Belanda Sampai Saat Ini, Jadi Nama Stadion di Kabupaten Banjar
sindonews.com - wikimedia
Demang Lehman 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Jika menyebut nama Demang Lehman, sepertinya masih belum banyak masyarakat Indonesia yang mengenalnya, kecuali sebagian pecandu olahraga khususnya sepakbola tanah air yang mungkin tidak sengaja atau "kebetulan" suka menjelajah informasi sepakbola Indonesia sampai ke Liga 2, karena nama ini juga disematkan oleh masyarakat sebagai nama dari Stadion megah kebanggaan masyarakat Kabupaten Banjar dan Kalimantan Selatan yang selama ini menjadi homebase dari MARTAPURA FC di LIGA 2.

Selain MARTAPURA FC, Stadion yang resmi dibuka sejak 2013 ini, juga pernah menjadi kandang Laskar Antasari, PS. BARITO PUTERA sekitar dua musim awal (2013-2014) ketika baru naik kelas ke Liga super Indonesia dan kemungkinan begitu juga tiga musim kedepan, ketika Stadion 17 Mei Banjarmasin kembali direnovasi oleh Pemprov Kalimantan Selatan untuk dijadikan stadion megah bertaraf Internasional.

Tapi Siapakah Demang Lehman?

Demang Lehman adalah seorang Panglima Perang Kesultanan Banjar diera Sultan Hidyatullah kebanggaan masyarakat Banjar dan Kalimantan Selatan. Sosok pejuang yang dalam catatan sejarah perjuangannya sama sekali tidak pernah mau kompromi dengan penjajah Belanda ini "Sangat ditakuti oleh penjajah Belanda".

Baca: Vokalis Pink Floyd David Gilmour Raup Rp 297 Miliar Setelah Jual 126 Gitarnya

Baca: VIDEO Keren Aksi Cetak Gol Tanpa Melihat Roberto Firmino saat Laga Peru Vs Brasil

Baca: Jessica Iskandar & Richard Kyle Dapat Peringatan Keras dari Sosok Ini, Ivan Gunawan Beri Teguran

Sebagai bukti, setelah tertangkap di daerah Tanah Bumbu yang diwarnai fragmentasi dramatis yang sarat dengan tipu muslihat licik khas penjajah Belanda serta nafsu khianat pribumi yang haus harta dan tahta, tanggal 27 Februari 1864 Demang Lehman menghadapi hukuman mati dengan cara digantung di tengah Alun-alun kota Martapura.

Setelah selesai digantung dan dinyatakan meninggal, kepala pria kelahiran Barabai (sekarang ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah) yang saat itu berusia 32 tahun itu dengan kejam dipisahkan dengan badannya dengan cara dipenggal.

Tujuan pemenggalan ini, salah satunya karena ketakutan Belanda pada ketinggian ilmu dan kesaktian Demang Lehman yang dikhawatirkan bisa hidup lagi jika kepalanya tidak dipisahkan dengan badannya, sekaligus untuk melemahkan mental Kombatan pasukan kesultanan Banjar saat itu.

Stadion Demang Lehman, di Desa Indrasari, Martapura, Kabupaten Banjar, merupakan markas Tim Martapura FC
Stadion Demang Lehman, di Desa Indrasari, Martapura, Kabupaten Banjar, merupakan markas Tim Martapura FC (banjarmasinpost.co.id/frans rumbon)

Tidak hanya itu, saking takutnya Belanda sekaligus untuk tidak menggelorakan semangat waja sampai kaputing kepada para pengikut Demang Lehman dan semua pasukan Kesultanan Banjar, sampai sekarang masih belum ada pengakuan resmi dari pemerintah Belanda terkait nasib jasad tanpa kepala dari Panglima perang yang mempunyai nama asli Idies ini, jadi tidak heran jika sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti letak makam dari mantan panakawan atau ajudan setia dari Pangeran Hidayatullah II tersebut.

Selain itu, kepala Demang Lehman yang pernah disayembarakan dan dihargai sangat mahal oleh penjajah Belanda kepada siapapun yang mampu membawanya, akhirnya dibawa Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden ke Belanda dan sampai sekarang masih "ditawan" di sana, sebagai bukti keberhasilan pasukan penjajah Belanda di Borneo menakhlukkan Panglima Perang Kesultanan Banjar yang paling licin, merepotkan dan sekaligus paling menakutkan ini.

Kronologi penangkapan Demang Lehman secara detail termuat dalam Berita Acara Vonis Demang Lehman yang dibukukan Pemerintah Hindia Belanda dengan titel Verzameling Der Merkwaardigste Vonnissen Gewezen Door De Krijgsraden Te Velde In De Zuid En Ooster-Afdeeling Van Borneo, Gedurende de jaren 1859-1864 yang diterbitkan di Batavia oleh Landsdrukkerij tahun 1865.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved