Berita Banjarmasin

Memilih Perguruan Tinggi, Pengamat Pendidikan Moh Yamin : Bijak Pilih Prodi

Saat ini masyarakat sudah memiliki kesadaran baru bahwa perguruan tinggi memiliki nilai jual karena nilai akreditasinya dan program studi

Memilih Perguruan Tinggi, Pengamat Pendidikan Moh Yamin : Bijak Pilih Prodi
BPost Cetak
BPost edisi cetak Selasa (25/6/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Antuasisme calon mahasiswa atau peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) untuk seleksi masuk tersebut menjadi perhatian pengaman pendidikan Moh Yamin.

Menurutnya, Ada beberapa catatan kritis. Pertama, selalu dan masih kuat framing masyarakat secara umum, masyarakat orangtua, dan masyarakat calon mahasiswa bahwa melanjutkan perguruan tinggi negeri memiliki nilai jual tinggi ketimbang bukan negeri walaupun hal tersebut bukan satu-satunya penentu.

Pasalnya, saat ini masyarakat sudah memiliki kesadaran baru bahwa perguruan tinggi memiliki nilai jual karena nilai akreditasinya dan program studi yang akan dimasuki, sesuai dengan kebutuhan pasar dan dunia kerja.

Kedua, seleksi masuk menggunakan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) menjadi tantangan tersendiri bagi calon mahasiswa sebab mereka tidak dapat mengikuti SBMPTN tanpa mengikuti UTBK.

Baca: Pendukung Prabowo Tak Permasalahkan MK Percepat Sidang Putusan Sengketa Pilpres

Baca: Melihat Usaha Pembuatan Bubur Khas Banjar, Berharap Jadi Kuliner Wajib Menjamu Tamu

Baca: Teror Ivan Gunawan Jelang Penikahan Syamsir Alam dan Bunga Jelitha Terungkap, Eks Timnas Ngaku Ngeri

Baca: Ayu Ting Ting Kalahkan Syahrini, Agnez Mo dan Rossa! Cek Daftar Penyanyi Indonesia Bertarif Termahal

Ini berarti bahwa nilai UTBK menjadi indikator apakah seorang calon mahasiswa dapat diterima pada perguruan tinggi tersebut pada program studi tertentu.

Oleh sebab itu, kemampuan dasar UTBK setidaknya memberikan gambaran dasar dan awal apakah seseorang layak masuk dan duduk di bangku program studi yang dipilihnya.

Ada alasan mendasar mengapa ini menjadi referensi sebab ada mahasiswa yang sesungguhnya tidak layak dan tidak memiliki kemampuan untuk belajar di program studi tertentu karena minatnya bukan di program studi itu, namun karena hanya lolos di SBMPTN, yang bersangkutan kemudian bisa menjadi mahasiswa di program studi tersebut.

Dampaknya adalah biasanya yang bersangkutan mengalami keterlambatan studi ketika menjelang akhir masa belajar karena mengalami kesulitan untuk menerima proses dan materi perkuliahan. UTBK menjadi penyaring awal sebelum berkompetisi di SBMPTN.

Hasil pengamatan saya sebagai seorang pengajar juga berbeda pandangan dari pandangan umum bahwa ada mahasiswa yang lemah di awal belajar, namun di proses dan perjalanan masa studi, yang bersangkutan mengalami dinamika semangat belajar yang tinggi.

Baca: Demi Layani Warga Pedalaman Papua, Mantri Patra Bertahan Hingga Meninggal Kehabisan Makanan dan Obat

Baca: Melihat Usaha Pembuatan Bubur Khas Banjar, Berharap Jadi Kuliner Wajib Menjamu Tamu

Jika saya sampaikan lebih utuh, ada mahasiswa yang rajin dan cerdas di awal masuk perkuliahan, namun yang bersangkutan di proses dan perjalanan masa studi kemudian mengalami pelambatan belajar. Semangat belajarnya menurun.

Terlepas apapun kondisinya, saya mengajak semua calon mahasiswa yang kini sedang berjuang untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi negeri agar yang bersangkutan sangat cerdas dan bijak memilih program studi.

Jangan memilih program studi karena ikut-ikutan. Harapannya adalah program studi yang dipilihnya memberikan harapan masa depan yang baik. (kur)

Penulis: Nia Kurniawan
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved