Berita Banjarmasin

Pustakawan Kalsel Digembleng Lagi, Pustakawan Ahli Perpusnas RI : 'Pelayanan Harus Bertransformasi'

Sekitar 150 tenaga pengelola perpustakaan mulai dari kelurahan, kabupaten hingga provinsi mengikuti bimbingan yang digelar oleh Perpustakaan Nasional.

Pustakawan Kalsel Digembleng Lagi, Pustakawan Ahli Perpusnas RI : 'Pelayanan Harus Bertransformasi'
HO/Humas Dispersip Kalsel
Sekitar 150 tenaga pengelola perpustakaan mulai dari kelurahan, kabupaten hingga provinsi mengikuti bimbingan yang digelar oleh Perpustakaan Nasional RI Rabu (26/6/2019) di Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sekitar 150 tenaga pengelola perpustakaan mulai dari kelurahan, kabupaten hingga provinsi mengikuti bimbingan yang digelar oleh Perpustakaan Nasional RI Rabu (26/6/2019) di Banjarmasin.

Titiek Kismiyati, Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, menyampaikan pustakawan harus profesional agar pengelolaan perpustakaan sesuai Standar Nasional Perpustakaan (SNP).

"Pasal 2, Undang-Undang Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan," kata dia.

Artinya, terangnya, Pemerintah menyadari bahwa peningkatan kualitas SDM tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal saja, tetapi diperlukan sarana sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh semua warga negara tanpa membedakan usia, pendidikan, gender, dan profesinya.

Oleh sebab itu, peran perpustakaan sangat strategis untuk mendukung program pembelajaran sepanjang hayat tersebut.

Baca: Perda Revolusi Hijau Kalsel Mewajibkan 10 Persen Dana CSR untuk Penanaman dan Penghijauan

Mengingat peran yang sangat penting tersebut, maka perpustakaan harus dikelola secara profesional dan terbuka bagi semua kalangan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berpengetahuan dan dapat diukur capaian kinerjanya bagi kesejahteraan masyarakat.

"Oleh sebab itu perpustakaan harus bertransformasi dalam 3 aspek. Aspek yang pertama adalah koleksi, perpustakaan bukan hanya sebagai gudang buku, tetapi berubah menjadi pusat informasi," kata dia.

Koleksi perpustakaan tidak hanya melulu medium cetakan, tetapi harus multi format sesuai perkembangan TIK seperti format digital dan elektronik yang dapat diakses secara online.

"Mengapa koleksi perpustakaan dianggap penting? Karena pada dasarnya koleksi perpustakaan adalah rekaman ungkapan perasaan, gagasan, pengalaman, dan pengetahuan umat manusia dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, koleksi perpustakaan adalah sumber utama materi pembelajaran bagi masyarakat," kata dia.

Transformasi selanjutnya adalah layanan perpustakaan yang tidak hanya mengandalkan layanan konvensional seperti layanan peminjaman dan membaca di tempat.

Halaman
12
Penulis: Rahmadhani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved