Berita Kabupaten Banjar

Harga Cabai Naik Lagi di Kabupaten Banjar, Pedagang Makanan Martapura Ini Gundah

Meski momen Ramadan dan Idulfitri 1440 Hijriyah telah berlalu, namun harga sejumlah bahan pangan sebagian masih tinggi. Bahkan ada yang kian menanjak.

Harga Cabai Naik Lagi di Kabupaten Banjar, Pedagang Makanan Martapura Ini Gundah
banjarmasinpost.co.id/idda royani
SIBUK - Acil Aya sibuk melayani pembeli, Kamis (27/06/2019) siang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Meski momen Ramadan dan Idulfitri 1440 Hijriyah telah berlalu, namun harga sejumlah bahan pangan sebagian masih tinggi. Bahkan ada yang kian menanjak.

Contohnya yakni cabai yang kembali naik harganya sejak sepekan lulu. "Seperempatnya Rp 20 ribu. Jadi, sekilonya Rp 80 ribu, ada juga yang Rp 75 ribu," sebut Soraya, pedagang makanan di kawasan Jalan Pangeram Hidayatullah, Martapura, Kamis (27/06/2019).

Acil Aya begitu ia biasa disapa, mengaku cukup gundah oleh naiknya harga cabai. Pasalnya cabai bagian dari bahan masakannya yang wajib ada. "Selain untuk campuran sayuran, kan paling utama untuk sambal. Pembeli selalu menanyakan sambal. Kalau tak ada bisa kecewa," tuturnya.

Padahal sebelumnya harga cabai cuma Rp 40 ribu per kilogramnya. Yang paling ia butuhkan yakni cabai tiung. Cabai rawit lebih mahal lagi harganya sehingga dirinya jarang menggunakan cabai jenis ini.

Baca: Wabup Prihatin Adanya Dugaan Pencemaran Sungai Amandit, Tapi Tak Bisa Lampaui Wewenang

Selain cabai, sebut Acil Aya, ada beberapa jenis bahan pangan lainnya yang saat ini juga naik harganya. Di antaranya beras yang sebelumnya Rp 10 ribu menjadi Rp 12 ribu per liter. Gula pasir yang semula Rp 10 ribu jadi Rp 12.500.

Lalu, ikan haruan yang semula hanya Rp 60 ribu per kilogram menjadi Rp 70 ribu. "Gas elpiji juga naik yang semula Rp 18 ribu jadi Rp 20 ribu di agen. Kalau belinya di warung (eceran) mahal lagi bisa sampai Rp 42 ribu," sebut Acil Aya.

Naiknya harga gas elpiji juga menggelisahkanya karena tiap saat ia memerlukannya. Satu tabung gas elpiji kemasan tiga kilogram hanya bertahan sekitar lima hari.

Ia berharap pemerintah melakukan intervensi pasar agar harga bahan pangan selalu stabil harga maupun ketersediaannya di pasaran. Pasalnya ada kemungkinan harga bahan pangan akan menanjak mengingat tak lama lagi ada momen hari raya Iduladha.

"Kalau harga tak stabil kami pedagang kecil yang repot, serba salah. Soalnya, kalau menaikkan harga jual makanan, nanti pembeli bisa berkurang," aku Acil Aya.

Baca: Pantau Sungai Amandit, Komisi III DPRD HSS Temukan Dugaan Pencemaran oleh Penambang Ilegal

Meski beberapa jenis bahan pangan yang ia butuhkan naik, Acil Aya mengaku tak menaikan tarif makananya. "Semua tetap serba Rp 10 ribu per porsi, apakah nasi kuning, lontong, mageli maupun ketupat mi," sebutnya.

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved