Fikrah

KH Husin Naparin: Kemilau Dunia Memburamkan Akhirat

WAHAI orang-orang yang beriman, berhati-hatilah dalam mengarungi kehidupan duniawi, kemilau dunia yang anda miliki jangan-jangan berakibat buramnya

KH Husin Naparin: Kemilau Dunia Memburamkan Akhirat
Airul Syahrif
KH Husin Nafarin MA 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - WAHAI orang-orang yang beriman, berhati-hatilah dalam mengarungi kehidupan duniawi, kemilau dunia yang anda miliki jangan-jangan berakibat buramnya akhirat anda. Ciri seorang beriman yang cerdas, ia sadar apa yang Allah perbuat terhadap dirinya, sehingga ia selalu terbimbing kearah kebajikan dan ketaatan karena Allah SWT selalu bersamanya, membimbingnya, mengarahkannya.

Sedang orang yang lalai, ialah orang yang hanya lihai merancang apa yang akan dilakukannya pada hari itu. Bisa jadi ia terseret ke lembah kemaksiatan dan dosa, karena Allah SWT tidak memperhatikannya.

Allah SWT berfirman: ”Dan tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka). “Bacalah kitabmu, cukuplah anda sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu (tentang segala yang telah anda lakukan)” (QS 17: 13-14)

Bayangkan seandainya kita berusia enam puluh tahun, setiap tahun kita hidup 365 hari, berarti kita mempunyai 365 lembar catatan amal yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Baca: PascaPutusan MK, KPU Langsung Rapat Pleno Tentukan Hari Penetapan Calon Terpilih Kamis Malam

Baca: Pernyataan Lengkap Prabowo & Jokowi Sikapi Hasil Sidang Putusan MK yang Tolak Prabowo-Sandiaga Uno

Baca: Protes Harvey Moeis Saat Sandra Dewi Hamil Anak Keduanya, Ungkap Perbedaan Saat Hamil Raphael Moeis

Pada saat manusia dibangkitkan dari kuburnya masing-masing, mereka dihalau ke padang mahsyar. Malaikat Izrail meniupkan sangkakala tanda kiamat telah terjadi. Ia berseru, “Wahai tulang belulang yang telah hancur, daging-daging yang telah luluh, bulu-bulu badan yang telah rontok, bangunlah kalian menuju padang mahsyar untuk mempertanggungjawabkan segala macam nikmat yang kalian nikmati di permukaan bumi.”

Mereka yang sedang menikmati nikmat kubur bersungut, siapa yang mengganggu istirahat kami. Mereka yang sedang menderita azab kubur berkata, jangan-jangan azab yang akan aku derita lebih pedih lagi dari yang diderita pada saat ini.

Allah SWT berfirman: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seseorang juapun. (QS 18: 49)

Syekh Abdulfattah Thobbarah dalam bukunya Ruh ad-Dien al-Islami menulis, ada dua penyakit manusia di sepanjang kehidupan mereka, pertama menuhankan sesamanya makhluk Allah dan kedua lupa akan kehidupan hakiki (akhirat).

Allah SWT telah mengutus para Rasul yang wajib kita percayai karena disebutkan di dalam Alquran dan 313 para nabi yang tidak disebutkan. Manusia telah diciptakan sebaik-baik bentuk ahsana taqwim, (QS 95: 4). Sebagai khalifah (pengganti Allah dalam mengatur kehidupan di permukaan bumi atau sebagai pengganti makhluk sebelumnya). Para Nabi dan Rasul bertugas memberi petunjuk (hidayah) kepada mereka agar tidak terjerumus ke lembah paling bawah (hewan). (QS 95: 4-5).

Ada empat hidayah yang diberikan kepada manusia:
1. Hidayah wijdan wa thabi’i. Hidayah ini sama diberikan kepada manusia dan hewan, berupa tubuh yang memerlukan makan dan minum, plus seks. Jika seseorang dalam hidupnya hanya makan, minum dan seks, berarti samalah ia dengan hewan.

2. Hidayah hawas wa masya’ir, panca indera. Hidayah ini juga sama diberikan kepada manusia dan hewan. Seseorang jika hidup hanya sampai pada pemanfaatan indera, maka ia akan sama pula dengan hewan.

3. Hidayah akal dan pikiran. Dengan hidayah inilah manusia menempati posisi terhormat. Jika seseorang tidak memanfaatkannya, ia disinyalir sebagai buta hati, bukan buta mata, laa ta’mal-abshaar wa lakin ta’mal-quluubullati fish-shuduur. Sungguh beruntung mereka yang menjadikan dirinya mau membersihkannya dengan iman dan amal kebajikan, sungguh merugilah mereka yang membiarkan dirinya terseret ke lembah dosa dan kemaksiatan. (QS.91/9-10).

4. Hidayah ad-Dien (agama). Pada posisi keempat inilah seyogianya kita menempatkan diri. Di dalam diri manusia sudah tersedia dua kesiapan, menerima hidayah atau menolak. Allah SWT berfirman: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS 90/8-10). Posisi kita di sisi Allah SWT akan ditentukan oleh ketakwaan kita masing-masing. Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum, (QS 49/13). (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved