Opini Publik

Masa Depan Pencitraan Wilayah Tropis

Beberapa tahun ke depan, pencitraan SAR berbasis wahana satelit makin ramai dengan rencana kehadiran beberapa satelit yang membawa sensor SAR

Masa Depan Pencitraan Wilayah Tropis
tribunjateng/ist
Ilustrasi - Foto Udara dan analisis Basarnas terhadap objek longsor di Karangkobar kabupaten Banjarnegara, saat konferensi pers, Senin (15/12/2014).

Oleh: Syam’ani SHut MSc
Dosen Bidang Ilmu Penginderaan Jauh Fakultas Kehutanan ULM/
Sekretaris Pusat Pengembangan Infrastruktur Data Spasial (PPIDS) ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya Minggu, 16 Juni 2019, saya mengisi kulwap (kuliah via WhatsApp) di grup WhatsApp milik Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Komisariat Wilayah Kalimantan Selatan (MAPIN Kalsel), topiknya adalah tentang SAR Basics. Jika Anda tertarik untuk membaca materi kulwapnya, sekarang sudah tersedia di laman resmi PPIDS ULM, ppids.ulm.ac.id.

Synthetic Aperture Radar (SAR) atau radar antena sintetik merupakan salah satu mekanisme pencitraan penginderaan jauh menggunakan sistem Radio Detection and Ranging (Radar). Mungkin,dalam kehidupan sehari-hari kita sudah sering mendengar istilah radar. Akan tetapi, istilah SAR mungkin saja kurang begitu familiar.

Bahkan di dunia penginderaan jauh tanah air sendiri, penggunaan citra SAR masih belum begitu populer sebagaimana citra optik yang biasa kita gunakan.

Sejatinya, teknologi penginderaan jauh dengan radar bukanlah teknologi baru. Secara historis, teknologi penginderaan jauh radar sudah ada sejak 1950-an. Meskipun pada masa itu masih menggunakan pesawat udara, yang teknologinya dikenal sebagai Side Looking Airborne Radar (SLAR). Saat ini, pencitraan radar dengan sistem SAR sudah berbasis wahana satelit.

Dimulai sejak era satelit SEASAT tahun 1978,hingga masa sekarang, era ALOS-PALSAR2, Radarsat-2, Sentinel-1, TerraSAR-X, danTanDEM-X.

Beberapa tahun ke depan, pencitraan SAR berbasis wahana satelit makin ramai dengan rencana kehadiran beberapa satelit yang membawa sensor SAR. Seperti NISAR dan BIOMASS yang rencananya diorbitkan pada 2021, dan TanDEM-L yang rencananya diorbitkan pada 2023. Menariknya, citra SAR seperti NISAR, BIOMASS, dan TanDEM-L, rencananya digratiskan untuk publik.

Saat ini, sudah ada beberapa citra SAR yang digratiskan untuk publik sedunia. Beberapa di antaranya adalah Sentinel-1 milik European Space Agency (ESA), dan ALOS-PALSAR generasi pertama milik Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Anda dapat mengunjungi laman scihub.copernicus.eu untuk mengunduh citra ESA Sentinel-1 SAR,danvertex.daac.asf.alaska.edu untuk mengunduh citra ALOS-PALSAR dan juga Sentinel-1.Citra Radarsat-1 milik Canadian Space Agency (CSA) rencananya juga digratiskan.

Selama ini, kita cenderung menggunakan teknologi pencitraan optik untuk kebutuhan ekstraksi data geospasial permukaan bumi. Sebut saja Landsat, ASTER, Sentinel-2 MSI, ALOS-AVNIR, IKONOS, Quickbird, WorldView, GeoEye, Pleiades, dan sebagainya. Beberapa dari citra ini, dapat diunduh langsung dari internet secara gratis.

Kehadiran citra optik Sentinel-2 pada 2015 cukup menarik perhatian dunia penginderaan jauh. Sebab selain digratiskan untuk publik, resolusi spasial (ukuran pixel) Sentinel-2 juga cukup mumpuni, yaitu 10 meter. Dengan ukuran pixel seperti ini, Sentinel-2 dapat menyajikan informasi bentang lahan dengan cukup detail.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved