Jendela

Keseimbangan Usai Pilpres

Dari aneka peristiwa selama proses pilpres, saya tertarik pada pidato masing-masing capres usai putusan Mahkamah Konstitusi (MK), 26 Juni 2019 lalu.

Keseimbangan Usai Pilpres
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh : Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri

KEMARIN, 30 Juni, KPU secara resmi menetapkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin sebagai pemenang pilpres 2019. Pertarungan meraih singgasana kepresidenan usai sudah. Kurang lebih sepuluh bulan waktu dan energi kita terkuras akibat hajatan politik ini.

Dari aneka peristiwa yang terjadi selama proses pilpres, saya tertarik pada pidato masing-masing capres usai putusan Mahkamah Konstitusi (MK), 26 Juni lalu.

Dalam pernyataannya Prabowo mengatakan bahwa meskipun keputusan MK itu mengecewakan dirinya dan para pendukungnya, dia menerimanya.

“Kita semua sepakat akan tetap patuh dan mengikuti jalur konstitusi kita…Kita harus memikirkan kepentingan yang lebih besar, keutuhan bangsa dan negara. Kita harus memandang bahwa seluruh anak bangsa adalah saudara-saudara kita sendiri,” tegas Prabowo.

Menyusul pernyataan Prabowo, di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jokowi bersama Ma’ruf Amin juga menyampaikan pernyataan. “Syukur Alhamdulillah, malam hari ini kita telah sama-sama mengetahui hasil putusan dari Mahkamah Konstitusi,” katanya. Dia juga menegaskan,

“Tidak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanyalah persatuan Indonesia. Walau pilihan politik kita berbeda, kita harus saling menghormati.”

Kalau kita cermati lebih jauh, baik Prabowo maupun Jokowi, sama-sama tidak mengungkapkan secara eksplisit kata ‘menang’ atau ‘kalah’. Prabowo hanya mengatakan bahwa dia dan para pendukungnya sangat kecewa, sementara Jokowi hanya mengatakan bahwa kita semua sudah tahu hasil putusan MK. Mungkin sikap Jokowi ini yang disebut dalam budaya Jawa “menang tanpa ngasorake” (merendahkan).

Penetapan pemenang pilpres sempat tertunda karena gugatan kubu Prabowo ke MK. Sebenarnya, ribut sudah dimulai sejak pengumuman hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei setelah pencoblosan, 17 April 2019 lalu. Kubu Prabowo menolak hasil hitung cepat yang menunjukkan kemenangan Jokowi itu. Menurut Prabowo, data internal yang dikumpulkan timnya justru menunjukkan dialah yang menang.

Akhirnya, riuh-rendah soal hitung cepat itu ‘ditenangkan’ dengan menunggu hasil hitung manual KPU berdasarkan rekapitulasi suara di TPS. Pada 21 Mei 2019, KPU mengumumkan hasil hitung manual itu, dan ternyata hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil hitung cepat lembaga-lembaga survei. Kubu Prabowo pun menolak dan menggugat ke MK, meskipun semula mereka bilang tidak mau ke MK.

Karena itu, pernyataan Prabowo yang menerima putusan MK minggu lalu sangat penting bukan saja sebagai akhir dari pertengkaran yang seolah tak ada habis-habisnya, tetapi juga sebagai wujud dari penerimaan terhadap proses demokrasi sesuai konstitusi. Terlepas dari ikhlas atau tidak, pernyataan Prabowo itu menunjukkan bahwa dia tetap mengikuti aturan main yang berlaku dalam pilpres ini.

Namun, kalau kita bandingkan dengan negara-negara demokrasi lain, tampaknya kita masih lamban menerima kalah-menang. Misalnya, sudah menjadi tradisi politik di Amerika Serikat, jika salah satu kandidat dalam perhitungan dinyatakan menang, maka kandidat yang kalah menelepon terlebih dahulu, mengucapkan selamat, seperti yang dilakukan Hillary Clinton kepada Donald Trump pada pilpres lalu.

Pada Mei 2012 saya kebetulan berada di Perancis. Segera setelah mengetahui hasil hitung cepat, Nicolas Sarkozy, mengakui kekalahannya. Dia berterima kasih kepada para pendukungnya dan mengatakan bahwa kekalahan itu adalah tanggungjawabnya. Dia meminta para pendukungnya untuk menghormati François Holland sebagai presiden baru Perancis, dan mengatakan padanya, “Semoga beruntung!”

Mungkin demokrasi kita memang belum matang. Mungkin elit politik kita belum seperti orang Amerika atau Perancis sehingga seingat saya, selama masa reformasi ini, belum ada pesaing capres yang segera mengucapkan selamat kepada pemenang segera setelah hitung cepat. Mungkinkah pula ini budaya orang Indonesia yang tidak suka blak-blakan? Mengaku menang saja hati-hati, apalagi mengaku kalah.

Entahlah. Yang jelas, pemenang sudah ditentukan. Kita berharap, pidato Jokowi dan Prabowo tentang persatuan bangsa bukan sekadar retorika. Kita kembali bersatu dalam perbedaan, perbedaan dalam persatuan. Ada yang menjadi pemerintah, dan ada yang mengawasi pemerintah. Inilah persatuan dalam keseimbangan! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved