Kesehatan

Studi Mengungkapkan Duduk Nonton TV Lebih Berbahaya bagi Jantung Dibanding Duduk Kerja

Selama ini, kita sering mendengar mengenai buruknya dampak kebiasaan duduk di tempat kerja bagi jantung.

Studi Mengungkapkan Duduk Nonton TV Lebih Berbahaya bagi Jantung Dibanding Duduk Kerja
net
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Selama ini, kita sering mendengar mengenai buruknya dampak kebiasaan duduk di tempat kerja bagi jantung.

Namun menurut studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association, kebiasaan duduk saat kerja tidak seburuk kebiasaan duduk nonton televisi (TV) saat senggang.
Dilansir dari Time, Rabu (26/6/2019); Jeanette Garcia selaku asisten profesor ilmu olahraga di Central Florida yang juga penulis utama studi ini mengatakan, ada banyak pembicaraan yang menyamakan duduk dengan merokok.

“Namun, apakah semua kebiasaan duduk sama? Hasil studi kami menunjukkan bahwa (jawabannya) tidak, mungkin kebiasaan duduk saat senggang lebih berisiko daripada kebiasaan duduk saat kerja,” ujarnya.

Menurut Garcia dan kolega, kebiasaan duduk saat kerja jarang berkaitan dengan kenaikan risiko jantung dan kematian.

Akan tetapi, kebiasaan nonton TV empat jam atau lebih dalam sehari meningkatkan risiko hingga 50 persen bila dibandingkan dengan kebiasaan nonton TV kurang dari dua jam sehari.

Baca: Alasan Sebenarnya Gisella Anastasia Tak Balas Komentar Gading Marten Terjawab, Pacar Wijin Ngaku

Baca: Fenomena Suhu Panas Ekstrem di Timteng dan Eropa Tak Berimbas ke Indonesia, ini Penjelasan BMKG

Baca: Kerupuk Ani Yudhoyono Jadi Bahasan Perbincangan SBY dan Jusuf Kalla, Ayah AHY Ungkap Fakta Ini

Baca: Akhirnya Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian Laporkan Galih Ginanjar ke Polisi? Ini Kata Hotman Paris

Para peneliti mendapatkan konklusi tersebut setelah memonitor kesehatan 3.600 partisipan yang merupakan orang dewasa Afrika-Amerika.

Para partisipan juga diminta untuk memberikan informasi mengenai kebiasaan duduk mereka, olahraga, serta informasi demografi, gaya hidup dan kesehatan lainnya.

Selama delapan tahun dimonitor, 129 partisipan mengalami masalah kardiovaskular dan 205 lainnya meninggal dunia.

Garcia berkata bahwa studi memang hanya melibatkan satu ras, tetapi hasilnya bisa jadi juga mencerminkan populasi lainnya.

Pasalnya, faktor demografi ditemukan sangat berpengaruh pada kesehatan jantung.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved