Berita Regional

Cerita Tika, Wasit Futsal yang Terseret Kasus Mafia Bola : Saya Hanya Babu, Ini Adalah Titah Majikan

Mantan atlet futsal ini harus duduk di kursi pesakitan bersama orang terkasih, Mbah Pri yang selama ini jadi bapak angkatnya.

Cerita Tika, Wasit Futsal yang Terseret Kasus Mafia Bola : Saya Hanya Babu, Ini Adalah Titah Majikan
(Fadlan Mukhtar Zain)
Terdakwa Tika dan Mbah Pri (berpeci) berbincang bersama kuasa hukumnya seusai menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (1/7/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARNEGARA - Persidangan kasus dugaan suap mafia bola yang melibatkan wasit futsal nasional di Banjarnegara kembali bergulir di PN Banjarnegara, Senin (1/7/2019).

Dilansir dari Kompas.com, air mata Anik Yuni Artikasari alias Tika, salah satu terdakwa kasus mafia bola, tak terbendung saat membacakan pledoi dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Banjarnegara.

Sementara terdakwa lainnya, Priyanto alias Mbah Pri yang duduk di sampingnya pun tak kuasa menahan tangis. Mantan atlet futsal ini harus duduk di kursi pesakitan bersama orang terkasih, Mbah Pri yang selama ini jadi bapak angkatnya.

Dalam pledoi yang disampaikan, Tika mengaku bukan siapa-siapa dalam dunia persepakbolaan, baik di kancah nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota.

Tika hanya seorang asisten pribadi Manajer Persibara, Lasmi Indrayani, yang juga merupakan anak dari Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono. Tika dikenalkan kepada Lasmi oleh bapak angkatnya.

Baca: RESMI! Joko Driyono Ditahan Satgas Anti Mafia Bola, Eks Ketum PSSI Diduga Lakukan 2 Hal Ini

"Saya bukan siapa-siapa, dalam arti bukan orang yang berpengaruh dalam dunia sepak bola. Saya hanya ingin mengabdikan diri pada dunia sepak bola, terutama futsal," tutur Tika yang merupakan salah satu dari sedikit wasit futsal wanita.

Namun Tuhan punya cerita lain. Keinginan Tika harus terhenti sementara karena tersandung persoalan hukum. Pun demikian dengan studi S2 yang sedang dijalaninya di salah satu kampus di Purwokerto, Jawa Tengah, juga terbengkalai.

"Saya berkeinginan menjadi PNS (pegawai negeri sipil) di Banjarnegara, karena ada tawaran dan Lasmi melalui bapak angkat," kata Tika.

Sebagai seorang terdakwa, menurut Tika, keluarga di kampung halamannya, Trangkil, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pun turut menanggung beban. Sanksi sosial bagi keluarganya tak dapat terelakkan

"Saya hanya gadis yang tinggal dengan ibu yang sudah renta dan kakak seorang single parent yang harus merawat anaknya yang berkebutuhan khusus. Saya bukan seperti Ibu Lasmi dari keluarga berada, ayah pengusaha sekaligus bupati," ujar Tika.

Baca: Inilah Nama dan Identitas 15 Tersangka Pengaturan Skor yang Diamankan Satgas Antimafia Bola

Tika mengaku tidak mengetahui mengenai transfer sejumlah uang dr Lasmi kepada bapak angkatnya. Ia tidak menerima dan menikmati aliran uang seperti yang terungkap dalam fakta persidangan.

"Saya hanya asisten Lasmi atau bahasa kasarnya babu yang harus selalu mengikuti perintah majikannya. Saya tidak memiliki kepentingan di Persibara, karena itu adalah titah majikan," kata Tika.

Seperti diketahui, kasus mafia bola diproses hukum setelah adanya laporan dari Lasmi Indrayani dan Budhi Sarwono. Mereka membeberkan dugaan pengaturan skor ke publik pada saat acara Mata Najwa yang disiarkan di salah satu televisi swasta.

(Penulis : Kontributor Banyumas, Fadlan Mukhtar Zain/KOMPAS)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tika, Wasit Futsal yang Terseret Kasus Mafia Bola: Saya Bukan Siapa-siapa, Hanya Babu"

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved