Berita Tabalong

Meski Harga Karet Basah Turun, Petani Karet UPPB Tak Merasa Khawatir

Harga Karet di Kabupaten Tabalong memang sudah biasa mengalami kenaikan dan penurunan.

Meski Harga Karet Basah Turun, Petani Karet UPPB Tak Merasa Khawatir
uppb pelita abadi
menimbang karet 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Harga Karet di Kabupaten Tabalong memang sudah biasa mengalami kenaikan dan penurunan.

Dan kali ini harga karet basah di sebagian tempat mengalami penurunan harga dari Rp.500 hingga Rp 1000 perkilogramnya.

Namun untuk petani karet yang menjadi anggota Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) dengan menjual karet kering tak perlu khawatir sebab harga masih stabil.

Sebagian Petani Karet Desa Masingai 1 dan Masingai 2 Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong Kalsel menjual karet kering di Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) Pelita Abadi yang merupakan program dari Pemerintah Daerah.

Daryoto, Seksi Pemasaran UPBB Pelita Abadi, mengatakan, beberapa hari terakhir harga karet basah memang mengalami penurunan.

Baca: Suami Menikahi Adik Kandungnya di Kalimantan Diduga Selingkuh, Istri Sah Tahu dari Video

Baca: Berpakaian Serba Putih, Ani Yudhoyono Datangi Adik Aliya Rajasa Lewat Mimpi, Istri SBY Katakan Ini

Baca: Bahaya Bermain HP Saat Berkendara Empat Kali Lebih Besar dari Mengemudi di Bawah Pengaruh Alkohol

Baca: Utang Galih Ginanjar Dibongkar Kakak Fairuz A Rafiq, Suami Barbie Kumalasari Sempat Ngaku Ini

"Biasanya saat turun perlu waktu lama untuk bisa naik lagi, penurunan harga rata-rata Rp 500 perkilogram," ujarnya, Selasa (02/07/2019).

Namun petani yang tergabung dalam UPPB tak perlu khawatir.

Pasalnya untuk terus meningkatkan dan menstabilkan harga karet Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian membentuk Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), salah satunya adalah UPPB Pelita Abadi di Desa Masingai 1.

Petani biasanya menjual karet dalam bentuk karet basah dengan harga Rp 7.700 perkilogram, UPPB Pelita Abadi bersedia membeli dengan harga Rp 8.700 perkilogram dalam bentuk karet kering dan bersih.
Daryoto menjelaskan sebelum dijual karet basah diinapkan dulu selama satu malam untuk mengurangi kadar air sebesar 15 persen.

Daryoto menambahkan sampai saat ini sudah sekitar 70 petani yang mau bergabung dan menjalankan sistem penjualan karet kering.

"Sisanya masih lebih memilih untuk menjual karet dalam bentuk basah, alasannya mungkin memang lebih mudah dan tidak menunggu satu hari untuk pembayaran karet, padahal jelas lebih menguntungkan jika menjual dalam bentuk karet kering," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved