Tajuk

Mencegah Karhutla

MEMASUKI kemarau panjang, salah satu persoalan yang selalu menjadi perhatian di Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Mencegah Karhutla
BPost Cetak
Tajuk edisi rabu (3/7/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MEMASUKI kemarau panjang, salah satu persoalan yang selalu menjadi perhatian di Kalimantan Selatan (Kalsel) yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pengalaman buruk adanya kabut asap yang menganggu penerbangan, menimbulkan sakit Ispa dan gangguan lain tentu tak diinginkan kembali terjadi.

Meskipun pada kenyataannya titik api mulai ditemukan. Sebagaimana laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada Minggu (30/6) sekitar 21.30 Wita yang melakukan pemadaman kebakaran lahan di Desa Bumi Jaya, RT 11, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut. Dari laporan itu api melumat lahan di Areal Penggunaan Lain (APL) dengan luas lahan 1,5 hektare.

Dapat diketahui, dari tahun ke tahun lahan yang terbakar rata-rata di lahan Areal Penggunaan Lain atau lahan tidur nonproduktif yang diketahui semak belukar. Penyebarannya pun merata. Selain Tanahlaut, wilayah lain yang menjadi langganan adalah Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Baritokuala, dan Kabupaten Tapin.

Baca: Jawab Laporan Fairuz, Pablo Benua dan Rey Utami Didampingi Farhat Abbas Datangi Polda Metro Jaya

Baca: Ternyata Insiden Kecelakaan di Belitung Banjarmasin Libatkan Sesama Pemadam Kebakaran

Baca: Kebakaran Simpang Jagung, Dikira Sang Ibu Terpanggang, Gadis Ini Menangis Terisak

Baca: Raffi Ahmad Akui Bertengkar dengan Sonny Septian, Suami Fairuz Hanya Karena Artis Ini

Kebakaran lahan tak semata menjadi musibah yang menimbulkan kerugian, baik secara ekonomi, sosial atau kesehatan, tapi juga isu yang menarik, bahkan menjadi salah satu tema debat Pilpres lalu.
Perdebatan memang tidak sampai kepada masalah teknis, tapi secara nyata masyarakat patut bersyukur bahwa angka karhutla menurun dari tahun ke tahun.

Di situs SiPongi terkait Karhutla Monitoring Sistem Kementerian Lingkungan Hidup, terdapat data 261.060,44 hektare lahan yang terbakar pada 2015. Jumlahnya turun pada 2016, yaitu seluas 14.604,84 hektare. Pada 2017 luas karhutla kembali menurun yaitu 11.127,49 hektare. Begitu pula pada 2018, jumlah lahan yang terbakar luasnya 4.666,39 hektare.

Penurunan ini tentunya tak lepas dari upaya berbagai pihak di daerah yang secara intensif melakukan pencegahan dan penanggulangan.

Pemerintah pusat pun juga tak mau terus-menerus diprotes negara tetangga karena berhasil mengekspor kabut asap. Tak sekadar tim terpadu, pemerintah pusat bahkan sudah menindak perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan dan diprogramkan membeli pesawat amfibi untuk keperluan pemadaman hutan dan lahan.

Tapi, tentu saja dengan luasan yang makin menurun, jangan sampai masyarakat menjadi lengah. Atau menyerahkan sepenuhnya tanggungjawab ini ke pemerintah. Keterlibatan dan peran serta masyarakat tetap diperlukan. Ajak mereka untuk ikut memantau, dan tidak ada salahnya juga terlibat di dalamnya.

Upaya memperbanyak kehadiran relawan menjadi salah satu cara untuk mencegah meluasnya karhutla. Beri mereka pelatihan, tips dan cara-cara sederhana, mulai dari antisipasi sampai penanganan.

Selain itu fakta bahwa lebih banyak lahan yang terbakar adalah areal lahan kosong nonproduktif, perlu segera dicarikan solusi. Menjadikan sebagai lahan perkebunan atau upaya lain, seperti tiga tahun silam dengan pembuatan embung bisa juga menjadi salah satu cara.

Dan tentunya menyulap lahan nonproduktif menjadi perkebunan, umpamanya, lagi-lagi harus melibatkan masyarakat. Tak bisa serta merta pemerintah menyulap peruntukan lahan.

Semoga di 2019 ini, karhutla makin menurun, dan tak sampai menimbulkan korban jiwa atau mengganggu aktivitas warga. (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved