Opini Publik

Ironi Penyelenggaraan Pendidikan Minus Fasilitas

Semoga ini tidak memberikan refleksi menyeluruh mengenai bangunan sekolah yang hancur dan tidak layak pakai di Kalimantan Selatan.

Ironi Penyelenggaraan Pendidikan Minus Fasilitas
apunk
Sejumlah murid SDN Pekapuran Raya berjalan di genangan air di halaman sekolah, Senin. 

Oleh: MOH YAMIN
Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin/ Penulis buku-buku pendidikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Cukup mengagetkan dan menyesakkan dada membaca tajuk harian Banjarmasin Post berjudul “Sekolah di Bangunan Tua” yang memberitakan bahwa ada sekolah dasar negeri di kota Banjarmasin yang masih menempati bangunan dengan usia yang sudah lebih 40 tahun.

Para siswanya yang sedang belajar sering terganggu debu dari lantai atas karena bangunannya mulai keropos dan sudah keropos. Ironisnya, sekolah tersebut padahal sudah menyandang sebagai sekolah berstandar nasional.

Yang lebih ironis lagi, ketika dilakukan cek dan recek, ternyata tidak hanya satu sekolah, ada banyak SD lain di Kota Banjarmasin yang memakai bangunan tua dari bahan papan yang melapuk (01/07/19).

Jika kemudian dimunculkan pertanyaan, apakah kondisi yang sama juga terjadi kepada sekolah-sekolah lain di luar kota Banjarmasin yang kebetulan belum terungkap ke ruang publik? Kita semua tidak tahu. Semoga ini tidak memberikan refleksi menyeluruh mengenai bangunan sekolah yang hancur dan tidak layak pakai di Kalimantan Selatan.

Jika harus menjadi refleksi atas realitas bangunan sekolah rapuh, barangkali itulah kondisi sejujurnya bahwa penyelenggaraan pendidikan di republik ini selalu mengalami karut marut. Itulah kenyataan pahit penyelenggaraan pendidikan di republik ini dimana masih banyak sekolah yang secara fasilitas tidak memadai dan belum layak disebut sebagai sekolah yang pantas untuk melakukan proses pendidikan dan pembelajaran.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Banjarmasin yang disebut sebagai pusat pendidikan, ibu kota provinsi, pusat peradaban, dan dimungkinkan dipandang jauh lebih maju ketimbang daerah-daerah lain masih menyisakan masalah dalam fasilitas bangunan-bangunan sekolah yang tidak layak untuk proses belajar.

Terlepas apapun jawabannya, selama situasi dan kondisi belajar selalu berada dalam kondisi memprihatinkan dan negara kemudian selalu absen dalam pelayanan pendidikan yang mencerdaskan, kejadian berulang ini akan terus muncul sebagai bagian dari keadaan bahwa itulah kondisi pendidikan ke depannya.

Upaya untuk secara serius menaikkan peradaban bangsa, mendorong pencerdasan dan peradaban akan selalu terhambat oleh minusnya fasilitas yang disediakan oleh negara bagi rakyatnya.

Agenda pembangunan untuk melahirkan dinamika pendidikan yang dapat mengangkat peradaban bangsa menjadi sebuah kemustahilan. Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah naik kelas menjadi bangsa yang besar.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved