Fikrah

Halalbihalal Oleh: KH Husin Naparin

KEHIDUPAN dunia memerlukan ketenteraman, bisa dicapai jika manusia saling berkasih sayang; disebut silaturrahmi/silaturrahim.

Halalbihalal  Oleh: KH Husin Naparin
istimewa
KH Husin Nafarin LC 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEHIDUPAN dunia memerlukan ketenteraman, bisa dicapai jika manusia saling berkasih sayang; disebut silaturrahmi/silaturrahim. Usai Ramadan masyarakat muslim mengadakannya melalui pertemuan, disampaikan tausiyah. Cinta duda dan janda teman sekelas dua puluh tahun yang lalu bersemi kembali, berlanjut dengan perkawinan.

Apa pasal? Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bung Karno sebagai Presiden RI pertama ingin rakyat hidup tenteram dengan kasih sayang kendati terdapat banyak perbedaan suku bangsa, adat istiadat dan budaya, bahkan agama.

Muncul semboyan Bhineka Tunggal Ika. Diadakan pertemuan di Istana Negara, Jakarta. Tausiyah disampaikan oleh KH Bagus Hadikusomo, berintikan antara lain, ufawwidhul-halala minni ilaikum wa athlubul-halala minkum, maksudnya aku berikan kehalalan dari kami kepada kalian dan kami minta pula kehalalan dari kalian, tidak ada permasalahan antar kita. (KH Drs Adnani Iskandar).

Silaturrahmi/silaturrahim terdiri dari dua kata (bahArab) yaitu: shilah artinya hubungan, dan ar-rahmi/ar-rahim artinya kasih sayang. Kata ini muncul dari kata kerja (fi’il) rahima-yarhamu-rahmatan/wa marhamatan. Jika direlevansilkan dengan kehidupan, rahim seorang ibu tempat tersimpan janin sebagai kinayah (simbol) kasih sayang.

Janin menjadi aman dalam rahim, karena perlindungan kasih sayang (bah.Arab; rahmah). Kasih sayang membuahkan kedekatan, muncul istilah sahabat karib. ”Jauh di mata dekat di hati.” Manusia akan berjarak jauh, seperti Timur dan Barat kendati duduk berdampingan jika bermusuhan. WJ S Poerwadarminta menulis dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, bahwa bila dikatakan bersilaturrahim/bersilaturrahmi maksudnya adalah mengikat tali persahabatan (persaudaraan).

Untuk terjalinnya silaturrahmi/silaturrahmi, Islam memberikan sarana, bahkan Nabi SAW mendambakan terjalinnya silaturrahmi/silaturrahim dengan iming-iming kelapangan rezeki dan panjang usia bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Nabi SAW bersabda, man ahabba an-yubsatha lahu fi rizqihii wa an-yuntsa’a fii aatsaarihi fal-yashil rahimahu. (HR Muttafaq Alaihi). Beliau menunjukkan sejumlah sarana untuk terjalinnya silaturrahmi/silaturrahim, antara lain; 1. Salam/tegur sapa. 2. Ucapan lembut. 3. Jamuan makan. 4 . Saling berkunjung. 5. Saling bertukar hadiah. 6. Menyelesaikan kesulitan orang lain. 7. Salat berjamaah. 8. Perkawinan. 9. Penelusuran nasab (bacuur, bah. Banjar).

Silaturrahmi menandakan kesempurnaan iman. Kita wajib bersilaturrahmi/bersilaturrahim:
1. Karena hubungan nasab, orangtua termasuk mertua, paman/bibi yang sederajat; kakek-nenek ke atas, anak-menantu dan cucu ke bawah, saudara dan ipar ke samping;

2. Karena hubungan tetangga seagama atau beda agama,

3. Karena hubungan persaudaraan kemanusiaan, sebangsa setanah air dan sesama manusia. Nabi SAW bersabda, man kaana yu’minu billaahi wal-aakhir falyashil rahimahu. (HR Bukhari-Muslim).

4. Sebagai sarana hubungan dengan Allah SWT. Nabi SAW bersabda, ar-rahmu mu’allaqatun bil-arsy, taquulu man washalanii washalahulllaah, wa man qatha’anii qatha’ahullahu, Ar-rahmu/ar-rahim tergantung di atas arsy. Ia berkata, siapa yang menghubungkan aku niscaya Allah menghubungkannya, dan siapa memtuskannya niscaya Allah SWT memutuskannya. (Hadits Muttafaq Alaihi).

4. Pencegah neraka. Nabi SAW bersabda, la yadkhulul-jannata qaathi’un (ya’ni qaathi’u rahmin. (HRMuslim). Irhamuu man fil-ardhi yarhamkum man fis-samaa, Sayangilah penghuni bumi, niscaya kalian disayangi penghuni langit.

Operasional memelihara ukhuwah islamiyah, diterangkan di dalam surah al-Hujurat ayat 11-12, bahwa terlarang merendahkan antarsesama, mencela, memanggil dengan panggilan tidak menyenangkan, menodai kehormatan orang lain lewat tajassus (memata-matai) pihak lain, ghibah (menyebarkan keaiban orang lain, namimah (adu-domba).

Seorang mukmin terpelihara kehormatan diri, darah dan hartanya. Dibolehkan berhubungan baik dengan non-muslim; terlarang jika mereka memusuhi dan mengusir umat Islam, wa laa ‘udwaana illaa aladz-zhaalimin. ( Al-Qaradhawi, Halal dan Haram dalam Islam).

Ukhuwah islamiyah menjadi putus akibat politik kontemporer; persaingan jabatan, harta dan wanita, persaingan antar partai, kandidat satu partai apalagi dengan partai rival, tokoh, ormas, daerah kelompok sendiri bahkan dalam satu keluarga.

Sikap politik berpotensi merusak ukhuwah islamiyah; pencitraan, dinasti, adu-domba, pembunuhan karakter, politik monopoli, diskriminasi (tebang pilih), balas budi, belah bambu, dan belah duren. Praktik politik yang sangat dicela agama; money politik, caci maki, menghina, memfitnah dan janji palsu. (A Hafizh Anshari, diskusi MUI Kalsel, 12 November 2013 di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin). (*)

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved