Berita Banjarmasin

"Millenials Kill Everything" Ungkap 50 Produk, Industri, dan Layanan Ini Alami Pergeseran Karena Ini

Di era digitalisasi industri 4.0, ada dua disrupsi yang berhasil mengubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan orang di dunia, yakni Digital Disruption

Banjarmasinpost.co.id/Mariana.
Pemaparan oleh penulis Buku Millenials Kill Everything, Yuswohady, dalam acara Kagama Talks Millenials Kill Everything, di Best Western Kindai Hotel, Banjarmasin, Sabtu (6/7/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Di era digitalisasi industri 4.0, ada dua disrupsi yang berhasil mengubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan orang-orang di dunia, yakni Digital Disruption dan Milenial Disruption.

Hal ini diungkapkan penulis buku Millenials Kill Everything, yang juga sebagai pembicara di Kagama Talkshow Millenials Kill Everything, Yuswohady berlangsung di Best Western Kindai Hotel, Banjarmasin, (6/7/2019).

Acara ini digagas oleh Keluarga Besar Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) Kalimantan Selatan (Kalsel) yang mana satu di antaranya ialah Yuswohady.

Dalam acara tersebut dia memaparkan, perubahan perilaku yang saat ini terjadi tidak terlepas dari revolusi digital yang berkembang pesat terutama yang terjadi di era millenial.

Baca: Olahraga Keras Jadi Pilihan Bocah ini Mengisi Liburan

Baca: 13 perwakilan kabupaten dan kota ramaikan Festival Budaya Banjar dan Pariwisata 2019

Baca: Gemar Membaca Sejak Kecil, Sarjana PGSD ini Punya Mimpi Membuka Wadah Membaca Bagi Anak-anak

Baca: Puncak HANI 2019, BNN dan Pemko Banarbaru Tampilkan Lawak Indo Banjar dengan Pesan ini

"Di era Baby Boomers dan Gen X belum tersentuh digital, sehingga saat masuknya digitalisasi di era millenial dalam grafik terjadi pergeran yang jauh atau saya ibaratkan gempa, karena sangat jauh berbeda gaya hidup dan perilaku yang terjadi antar Gen X dan Millenial," ucap Yuswohady.

Dijelaskannya, terdapat 50 produk, industri, dan layanan yang perlahan "terbunuh" oleh pergeseran perilaku millenial saat ini.

Di poin teratas mengenai rutinitas pekerjaan yang sudah tidak sesuai dengan kebiasaan generasi millenial. Pergeseran jam kerja yang tidak lagi dari pukul 09.00-17.00 tapi lebih fleksibel dapat dilakukan sambil nongkrong di cafe, termasuk gaya pakaian yang tidak melulu formal, kaum millenial lebih suka santai atau casual.

"Dari segi kepemilikan, millenial cenderung sharing bukan owning. Seperti misalnya mobil, kebanyakan mereka lebih suka gunakan grabcar atau gocar, selain itu, dapur juga saat ini sudah hampir tidak terpakai, sebab saat ini orang lebih suka akses yang instan dan cepat seperti gofood untuk makan," kata dia.

Hal ini membuat para perusahaan bahka orangtua atau Gen X harus mengikuti pergeseran perilaku yang dilakukan generasi millenial.

Baca: Razia Diintensifkan, Jalan Umum di Kertakhanyar Kini Bebas PKL

Baca: Beda Sifat Maia Estianty & Irwan Mussry dengan Ahmad Dhani dan Mulan Jameela Diungkap Pacar El Rumi

Baca: Respons Putra Veronica Tan saat Tahu Ahok BTP Fitting Jas Pasca Kabar Dekati Puput Nastiti Devi

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Kagama Kalsel, Prof Dr Abdullah S.Si, M.Si mengatakan, Banjarmasin pun perlahan saat ini sudah mulai beradaptasi dengan era disrup digital.

"Banjarmasin adalah yang paling maju dari kabupaten/kota lainnya di Kalsel, karena itu kegiatan semacam ini sangat perlu sebagai edukasi terutama untuk para pelaku usaha, kalau tidak bisa mengikuti maka akan tergilas dengan masyarakat millenial," ujarnya.

Ditambahkannya, respon Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin menyambut baik hal ini. Dia pun berharap acara sejenis ini akan dilaksanakan kembali dalam skala peserta yang lebih besar. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved