Berita Banjarbaru

Ungkap Soal Pernikahan Dini, Ini Kata Puan Maharani

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, soal pernikahan dini ini harus diatasi secara bergotong royo

Ungkap Soal Pernikahan Dini, Ini Kata Puan Maharani
Dari Humas BKKBN RI untuk BPost
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, terkhusus soal pernikahan dini ini harus diatasi secara bergotong royong. 

BANJARMASINPOST.CO.ID BANJARBARU - Pernikahan Dini masih menjadi catatan serius untuk ditanggulangi berasama.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani, terkhusus soal pernikahan dini ini harus diatasi secara bergotong royong.

Data di BKKBN dan dari Kemenkes, pernikahan dini  sudah mulai menurun jadi kesadaran. Anak-anak Indonesia memilih bisa bersekolah untuk mendapatkan pendidikan dan menunda pernikahan sampai mereka sudah siap mental dan siap fisik.

“ Hal itu sebaiknya sekurang-kurangnya adalah umur 18 tahun dan ini mulai banyak sekali kesadaran yang dilakukan salah satu contohnya duta genre atau remaja genre merekalah yang kemudian bersama-sama untuk bisa mensosialisasikan bahwa pernikahan dini itu tidak akan menjadi lebih baik dibandingkan nanti kalau kita sudah siap lahir dan batin” kata Puan Maharani di Puncak Acara Hari Keluarga Nasional di Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Baca: Tercecer dari Rombongan, Peserta Harganas XXVI 2019 Dievakuasi Personel BPBD Kalsel

Baca: Hasil Latihan Bebas (FP) 3 MotoGP Jerman 2019, Marc Marquez Ungguli Valentino Rossi & Quartararo

Baca: Harganas ke-26, Sepeda 1890 Ramaikan Pawai Budaya di Tugu Nol Kilometer Banjarmasin

Baca: Hasil Akhir Martapura FC vs Persatu Tuban Liga 2 2019 : Skor Akhir 1-0, Tendangan Bebas Ardan Aras!

Padahal jelas-jelas pernikahan dini menempatkan remaja putri dalam resiko tinggi terhadap kehamilan dini dan kehamilan tidak diinginkan, dengan konsekuensi ancaman kehidupan.

Pencegahan pernikahan dini akan membantu penurunan resiko infeksi pada saat melahirkan bahkan ‘ancaman’ kematian pada saat ibu melahirkan serta bayi cacat lahir.

Bila trend ini terus berlanjut, 142 juta remaja putri akan melakukan pernikahan sebelum mereka berusia 18 tahun sebelum tahun 2020. Hal ini berarti 14,2 juta remaja putri melakukan pernikahan setiap tahun atau 39.000 setiap hari.

Berdasarkan data RPJMN 2017 menunjukkan bahwa usia kawin pertama pada kelompok umur 15 - 19 tahun di Provinsi Kalimantan Selatan pada angka 40 sedangkan angka di nasional 33 tahun 2017, sedangkan target Provinsi Kalsel pada tahun 2018 adalah 36.

Sementara itu data usia kawin petama perempuan (UKP) di Provinsi Kalimantan Selatan masih di angka 19 tahun, sedangkan untuk target nasional tahun 2018 adalah 19,8. Padahal angka rata-rata UKP di tingkat nasional adalah 21 tahun, hal ini menunjukkan perlu bahwa ASFR dan UKP di kalsel masih dibawah rata-rata nasional.

Karenanya, menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, BKKBN haru bekerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah maupun mitra kerja lain seperti BNN, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kepolisian, dan LSM (PKBI, Citra Mitra Remaja, Youth Centre, Granat,dll) termasuk juga pemerhati remaja telah melakukan berbagai upaya melalui berbagai program dan lintas sektor.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, berujar, remaja merupakan individu-individu calon pasangan yang akan membangun keluarga dan calon orangtua bagi anak-anak yang dilahirkannya sehingga perlu disiapkan agar memiliki perencanaan dan kesiapan berkeluarga.

Kesiapan berkeluarga merupakan salah satu kunci terbangunnya ketahanan keluarga dan keluarga yang berkualitas sehingga diharapkan mampu melahirkan generasi yang juga berkualitas.

Karena itu, kata dia, sejak tahun 2007 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) telah menginisiasi pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Hal itu dilakukan untuk menghindari perilaku anak yang negatif.

Baca: Kondisi Keuangan Diumbar Gisella Anastasia Saat Bersama Gading Marten, Saat Bersama Wijaya Saputra?

Baca: Millenials Kill Everything Ungkap 50 Produk, Industri, dan Layanan Ini Alami Pergeseran Karena Ini

Baca: Pesan Menohok Nikita Mirzani ke Kriss Hatta Pasca Vonis Bebas & Kehamilan Hilda Vitria Diungkap

Program itu seiring waktu namanya kemudian berkembang menjadi PIK Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M). Tidak lain itu dibuat dalam rangka Pembinaan Ketahanan Remaja sebagai bagian dari upaya Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga serta Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Sementara Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, di momen Harganas ke XXVI ini, pria yang akrab disapa Paman Birin juga menganjurkan warga untuk berupaya untuk menghindari pernikahan dini, karena itu sudah jelas akan lambat sejahtera dalam kedidupannya.

"Biasanya kalau tidak matang persoalan pernikahan, ini kesiapan berkeluarga akan terganggu, dan kurang sejahtera," kata Paman Birin. (banjarmasinpost.co.id /nurholis huda)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved