Berita Nasional

Nasib Baiq Nuril Ditangan Presiden Jokowi, PK Ditolak MA

Mahkamah Agung (MA) telah menolak peninjauan kembali ( PK) Baiq Nuril dalam kasus perekaman ilegal

Nasib Baiq Nuril Ditangan Presiden Jokowi, PK Ditolak MA
Kolase Banjarmasinpost.co.id
Upaya hukum Baiq Nuril kini bergantung pada Presiden Joko Widodo 

BANJARMASINPOST.O.ID, JAKARTA - Upaya hukum terakhir Baiq Nuril kini hanya berharap pada Presiden Joko Widodo untuk memberikan amnesti.

Mahkamah Agung (MA) telah menolak peninjauan kembali ( PK) Baiq Nuril dalam  kasus perekaman ilegal yang membuatnya tetap harus dihukum 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta.

"Posisi kami kecewa dan berharap putusan hakim, khususnya kasasi dan PK (peninjauan kembali) ini, tidak jadi preseden yang membuat korban takut bersuara. Lalu kami desak Presiden Jokowi untuk berikan amnesti," ujar penggagas petisi #SaveIbuNuril dari Institut for Criminal Justice Forum ( ICJR) Erasmus Napitupulu kepada Kompas.com, Jumat (5/7/2019).

Menurut Erasmus, mekanisme teknis membatalkan eksekusi atau menghapus hukuman diserahkan kepada Presiden. Putusan PK tersebut pun dianggap mengecewakan.

Baca: Berkat Membaca, Warret Buffet Jadi Orang Terkaya, Ini 9 Buku Investasi yang Direkomendasikan

Baca: Chelsea Akhirnya Resmi Lepas Alvaro Morata ke Atletico Madrid

Baca: 14 Warga Afghanistan Tewas Akibat Serangan Mortir di Pasar

Baca: Momen SBY Ziarahi Makam Ani Yudhoyono Saat Ultah, Didampingi AHY, Annisa Pohan, Ibas & Aliya Rajasa

Ia menuturkan, pihak Baiq Nuril sempat memberikan surat ke Presiden Jokowi pada 19 November 2018. Koalisi Save Ibu Baiq Nuril berkunjung ke Kantor Staf Presiden dan memberikan surat kepada Presiden.

"Surat tersebut berisi permintaan pemberian amnesti oleh Presiden kepada Nuril," ungkapnya kemudian.

Presiden merespons permintaan ini dengan meminta Nuril untuk mengajukan grasi jika PK ditolak MA.

Kasus bermula saat Baiq Nuril menerima telepon dari Kepsek M pada 2012. Dalam perbincangan itu, Kepsek M menceritakan tentang hubungan badannya dengan seorang wanita yang juga dikenal Nuril. Karena merasa dilecehkan, Nuril merekam perbincangan tersebut.

Pada 2015, rekaman itu beredar luas di masyarakat Mataram dan membuat Kepsek M geram. Kepsek lalu melaporkan Nuril ke polisi karena merekam dan menyebar rekaman tersebut.

Akibatnya, MA lewat putusan kasasi pada 26 September 2018 menghukum Baiq Nuril 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved