Opini Publik

Pengelolaan Lahan Basah ala Belanda dan Urang Banua

Seperti yang selalu penulis duga, kecanggihan Belanda mengelola lahan basah menjadi lahan pertanian yang sangat maju bukan tanpa risiko.

Pengelolaan Lahan Basah ala Belanda dan Urang Banua
BANJARMASINPOST.co.id/reni kurnia wati
Ilustrasi - Lahan pertanian rawa di Hulu Sungai Utara. Foto diambil Sabtu (31/3/2018) 

Oleh: Prof DR ir H Fadly Hariannoor Yusran MSc
Guru Besar Fakultas Pertanian dan Pascasarjana ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penganugerahan Doctor Honoris Causa kepada Nico ‘Max Havelaar’ Roozen oleh Universitas Lambung Mangkurat (Banjarmasin Post, 18 Juni 2019) membuka kesempatan kepada penulis untuk berbincang mengenai lahan basah kekinian dalam perspektif akademisi Belanda.

Seperti yang selalu penulis duga, kecanggihan Belanda mengelola lahan basah menjadi lahan pertanian yang sangat maju bukan tanpa risiko.

Pengalaman mengunjungi lokasi reklamasi lahan basah mereka selalu mengungkap fakta negatif awal yang memerlukan solusi menyeluruh, terutama apabila berhubungan dengan produksi pangan berkelanjutan yang menjadi tujuan semua pihak.

Keahlian Belanda yang Mendunia

Banyak orang tahu kalau Belanda identik dengan kanal air yang menjadi sarana transportasi dan ciri khas negara kecil ini. Amsterdam tidak akan terkenal tanpa adanya canal cruising. Keahlian mereka membuat bendungan dan teknologi tata-air merupakan prestasi mereka yang menjadi panutan. Demikian pula halnya dalam mengelola lahan basah, terutama di wilayah pesisir. Keahlian mereka sudah teruji selama berabad-abad.

Sejak ratusan tahun yang lalu, Belanda seringkali dilanda banjir akibat keganasan Laut Utara. Banjir besar tahun 1952 mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia dan 200.000 ha lahan pertanian rusak akibat rob.

Banjir rutin yang mematikan inilah yang menjadi pemicu dibangunnya storm barrier di Provinsi Zeeland. Bangunan sejenis juga didirikan di Noord Holland, Friesland, dan Groningen. Saking seriusnya mengurusi air, pemerintah Belanda mendirikan otoritas khusus yang bernama Rijkswaterstaat. Otoritas ini bertanggungjawab terhadap pembangunan sarana prasarana perairan dan inovasi yang berhubungan dengan pencegahan banjir serta pengelolaan air.

Pemeo orang Belanda we create nature sudah mahfum kita ketahui. Bagaimana tidak, negara kecil dengan nama Netherlands ini berhasil mereklamasi wilayah laut menjadi lahan pertanian.

Dua-pertiga wilayahnya berasal dari perairan pantai yang dikeringkan. Dengan sistem polder, yang kita tahu juga ada di rawa lebak hulu sungai, mereka membangun dam atau dyke selebar jalan raya dua arah.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved