Tajuk

Siaga Darurat Karhutla

Di Palangkaraya, Kalteng siaga darurat karhutla sebagai upaya menggerakkan komponen masyarakat, petugas pemadam kebakaran dan organisasi sosial lain.

Siaga Darurat Karhutla
Ist
Kebakaran hutan di Kalteng terpantau dari udara 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KINI, perubahan iklim di sebagian Kalimantan mulai terasa panas, di mana-mana terjadi kekeringan. Terhadap iklim demikian, perlu diwaspadai kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik faktor alam atau karena sengaja dibakar oleh oknum untuk membuka lahan baru.

Di Kalimantan Tengah misalnya, peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tjilik Riwut Palangkaraya, terkait kemarau disikapi berbagai kalangan (BPost, 8/7/2019) “Anggaran Karhutla Siap Dipakai; Kapolres Peringatkan Warga yang Bakar Lahan.”

Iklim di Indonesia, dibagi musim kemarau dan musim penghujan. Berbeda di Arab Saudi, yang kini bertepatan calon jemaah haji mulai diberangkatkan, yaitu dingin pada Oktober-Maret suhu udara 6 derajat Celcius dan panas mulai April-September suhu bisa mencapai 50 derajat Celcius.

Jika demikian, kini di Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah, saat muslimin-muslimat menunaikan ibadah haji, bertepatan musim panas. Bandingkan dengan di Indonesia, ketika musim kemarau suhu udara berkisar 30-37 derajat Celcius.

Terkait kemarau panjang yang mungkin terjadi tahun ini di sebagian kepulauan Kalimantan, menjadi ancaman kalau tidak diwaspadai, terutama kebakaran lahan secara sporadis yang bisa berdampak pada pencemaran udara.

Di Palangkaraya, Kalteng siaga darurat karhutla sebagai upaya menggerakkan komponen masyarakat, petugas pemadam kebakaran dan organisasi sosial lainnya, termasuk relawan untuk bergerak memadamkan api yang membakar lahan gambut, hutan dan semak belukar.

Demikian pula kabupaten/kota di Kalsel, tentu harus mewaspadai titik panas yang ada sesuai data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mengatasi kebakaran lahan dan hutan.

Kabut asap, akibat karhutla yang hampir melanda di sejumlah kepulauan Indonesia, menjadi fenomena tahunan yang terjadi di nusantara, baik faktor alam maupun akibat ulah tangan manusia, yang oleh oknum tertentu sengaja membakar hutan untuk membuka lahan baru.

Pembakaran hutan, lahan pertanian dan perkebunan hingga eksploitasi alam dan kandungan bumi lainnya, tak pernah luput dari para perusak lingkungan. Padahal menjaga kelestarian alam, sangat dianjurkan demi keseimbangan dan mencegah kerusakan lingkungan.

Lingkungan hidup sebagai suatu sistem, komponennya bekerja secara teratur sebagai satu kesatuan, terdiri atas unsur biotik (manusia, hewan dan tumbuhan) abiotik (udara, air, tanah, iklim dan lainnya).

Jika manusia berlebihan mengeksploitasi alam, tidak mustahil akan berdampak kerusakan ekosistem yang bekerja secara teratur tadi. Dapat dibayangkan, pada kemarau panjang yang diprediksi tahun ini, kebakaran senantiasa mengintai dan krisis kekeringan terjadi di mana-mana. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved