Mereka Bicara

Fenomena Top-dog di Perguruan Tinggi

Pengumuman hasil SBMPTN yang tinggal menghitung hari ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para pelajar di Indonesia

Fenomena Top-dog di Perguruan Tinggi
wp.com
SBMPTN 2019 

OLEH: INTAN ADINDA APRIANTY, Mahasiswi Fak Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pengumuman hasil SBMPTN yang tinggal menghitung hari ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para pelajar di Indonesia dengan segenap doa untuk bisa masuk PTN favorit dan pilihan. Namun sudah siapkah sebenarnya para remaja ini? Peralihan dari sekolah menuju perguruan tinggi yang akan lebih kompleks dari sebelumnya.

Banyak yang mengatakan bahwa masa yang paling indah adalah masa SMA lalu jika begitu bagaimana dengan masa perkuliahan di perguruan tinggi. Mungkin jika digambarkan masa perkuliahan adalah masa dimana paling berat bagi beberapa orang peralihan dari remaja kedewasa awal peralihan dari sekolah ke perguruan tinggi yang penuh dengan konflik diri yang tiada habisnya.

Memang jika dilihat diperguruan tinggi itu lebih bebas dari segi pakaian, style, bahkan kita sendiri memiliki kebebasan untuk mengambil kelas mata kuliah yang kita suka berbeda jauh dengan masa sekolah yang penuh dengan peraturan seperti masuk kelas pagi dan berseragam rapi.

Namun dibalik itu memulai kehidupan di perguruan tinggi tidak lah mudah kampus tidak selamanya menyenangkan, lingkungan tidak selamanya bersahabat, dan orang-orang tidak selamanya baik. Apa lagi bagi para mahasiswa baru yang merantau ke kota besar beradaptasi dengan budaya baru bukan lah hal yang mudah.

Dalam psikologi, masa perpindahan ini sering kali disebut dengan fenomena top-dog di mana ketika individu yang awalnya berada di kelompok lebih tua dan berkuasa kembali menjadi orang yang lemah dan paling muda. Bagi beberapa siswa perpindahan dari sekolah ke perguruan tinggi mengarah ke pergerakan struktur yang lebih besar dan impersonal.

Interaksi dengan lingkungan pertemanan yang memiliki banyak perbedaan dari latar belakang geografis dan etnis yang bahkan lebih beragam. Perpindahan tempat yang mengharuskan kita mengikuti budaya baru kadang sedikit membuat kewalahan bagaimana kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang jauh berbeda dengan tempat asal.

Yang awalnya di masa sekolah menengah atas selalu menjadi pusat perhatian bisa menjadi bukan siapa-siapa di perkuliahan karena harus memulai lagi dari awal. Mencari teman yang baik salah langkah lingkup pertemanan dapat membawa pengaruh yang negatif namun sekali lagi perlu dingatkan itu adalah sebuah pilihan bagi kita yang sudah beranjak dewasa guna memilah berteman dengan siapa.

Tuntutan dan tanggung jawab yang lebih besar akan dihadapi di masa kuliah, bagaimana ketika di masa sekolah menengah atas kita sudah dibatasi berada disana selama 3 tahun berbeda dengan perkuliahan, hal itu berada ditangan kita sepenuhnya ingin lulus dalam jangka waktu berapa tahun.

Tugas dari setiap mata kuliah dengan deadline yang kadang bisa saja mepet membuat kita sebagai mahassiswa harus berteman baik dengan kopi untuk begadang di sana lah kesehatan bisa saja menurun. Cukup sulit menjaga kesehatan ditengah padatnya perkuliahan dengan makanan yang kadang tidak teratur. Bukan perihal mudah untuk beberapa orang beradaptasi dengan kehidupan perkuliahan yang mewajibkan kita untuk mandiri, menghadapi masalah dan pilihan sendiri.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved