B Focus Kalteng

Gas Melon Bikin Serba Salah, di Pangkalan Harus Antre, di Pengecer Harganya Selangit

Harga Elpiji bersubsidi 3 kg atau warga biasa menyebut gas melon, yang dijual di pasaran atau tingkat pengecer jauh di atas ketetapan harga eceran

Gas Melon Bikin Serba Salah, di Pangkalan Harus Antre, di Pengecer Harganya Selangit
BPost Cetak
B Focus edisi cetak Rabu (10/7/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Harga Elpiji bersubsidi 3 kg atau warga biasa menyebut gas melon, yang dijual di pasaran atau tingkat pengecer jauh di atas ketetapan harga eceran tertinggi (HET) penjualan di pangkalan yang ditetapkan Rp 17.500 di Kota Palangkaraya.

Pemerintah Kota Palangkaraya telah mengatur untuk harga eceran tertinggi penjualan gas elpiji bersubsidi tingkat pangkalan maksimal Rp 17.500 per tabung, namun saat dijual di tingkat pengecer harganya melambung tinggi mencapai Rp 40 ribu per tabung.

Baca: Ayu Ting Ting Menghilang dari Brownis Trans TV, Ivan Gunawan Bereaksi Begini Ditanya Ruben Onsu

Baca: Fakta Gosip Cinta Ifan Seventeen dan Juliana Moechtar, Putuskan Kontrak Hingga Kekecewan Juliana

Baca: Sikap Mengejutkan Vanessa Angel saat Keluar Penjara! Tolak Mentah-mentah Ayahnya, Ini Penyebabnya

Untuk membeli Elpiji melon di pangkalan pun juga tidak mudah, karena salah satu syaratnya harus menggunakan kartu keluarga (KK) dan tercatat sebagai warga di sekitar pangkalan atau RT setempat.

Pemilik pangkalan tidak mau menjual gas elpiji bersubsidi kepada warga yang bukan dari masyarakat yang tinggal di sekitar pangkalan tersebut.

"Beli gas melon makin susah, di pangkalan antrenya panjang dan harus pakai KK atau KTP, beli di pengecer harganya Rp 30 ribu - Rp 40 ribu," ujar Rusli, warga Jalan Rajawali, Palangkaraya, Selasa (9/7).

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved