Tajuk

Jadilah Tamu yang Baik

ROMBONGAN calon haji dari Kalimantan Selatan mulai berangkat sejak 9 Juli 2019. Tahun ini, sebanyak 6.056 orang menjadi calon haji asal kalsel

Jadilah Tamu yang Baik
banjarmasinpost.co.id/nurholis huda
Pelepasan Jemaah Haji Kloter Pertama 

BANJARMASINPOST.CO.ID - ROMBONGAN calon haji dari Kalimantan Selatan mulai berangkat sejak 9 Juli 2019. Tahun ini, sebanyak 6.056 orang menjadi calon haji asal Kalimantan Selatan.

Mereka bergabung dengan 1.920 orang anggota jemaah calon haji asal Kalimantan Tengah yang melalui Embarkasi Banjarmasin, dan diberangkatkan dalam 19 kelompok terbang melalui Bandara Syamsudin Noor.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak kisah dan cerita yang menghiasi perjalanan jemaah haji di Banua. Dari yang serius hingga sekadar menimbulkan senyum bagi yang mendengar.

Hingga kemarin, ada berbagai cerita mengenai prilaku anggota calon jemaah haji yang bakal diberangkatkan melalui Embarkasi Banjarmasin di Bandara Syamsudin Noor. Ada calon jemaah yang masih membawa kecap, bahkan alat memasak yang bakal digunakan selama berada di Tanah Suci.

Prilaku seperti ini memang rutin terjadi dan dilakoni oleh calon jemaah haji. Padahal, jauh-jauh hari pembina dan pembimbing haji telah menyampaikan bagaimana kondisi di Tanah Suci.

Kepada calon jemaah juga dijelaskan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa dalam penerbangan saat berangkat dan datang dari Tanah Suci. Begitu juga yang boleh dan dilarang selama menjalankan peribadatan haji di Tanah Suci.

Mungkin karena sebelumnya tidak pernah mengalami langsung perjalanan haji, sehingga masih ada anggota jemaah haji yang melanggar larangan tersebut. Hasilnya, barang terlarang pun disita saat mereka akan diberangkatkan.

Selain persoalan barang bawaan yang tidak sesuai imbauan, keberadaan anggota calon jemaah haji yang memiliki risiko tinggi (risti) akibat kondisi tubuh mereka, sehingga ditakutkan bisa mengganggu proses menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Seperti dialami tujuh orang dari Keloter 1 Embarkasi Banjarmasin, batal berangkat 9 Juli 2019 lalu karena kondisi kesehatannya menurun. Tim medis pun memutuskan keberangkatan mereka ditunda sampai kondisinya normal.

Mengikuti pelaksanaan perjalanan haji memang lebih banyak mengandalkan kemampuan fisik. Wajar, apabila kemampuan fisik dianggap telah menurun akibat paparan suatu penyakit, si calon jemaah haji akan ditunda keberangkatannnya sampai kondisinya memungkinkan.

Harapannya, kehadiran anggota jemaah di Tanah Suci tak mengganggu pelaksaan ibadah anggota jemaah yang lain. Memang ada petugas haji yang dilibatkan di tiap keloter, tapi kalau semua anggota jemaah sehat, tentu itu akan lebih baik bagi kelompoknya.

Sebagai tamu Allah selama pelaksanaan ibadah haji, kehadiran warga Banua di Tanah Suci juga diharapkan bisa membawa nama baik Banua. Jangan sampai membuat nama Kalimantan Selatan menjadi jelek akibat prilaku warganya di sana.

Tamu yang baik tentu saja mampu menempatkan diri sesuai kondisi di lapangan saat mengikuti perjalanan haji. Tak selalu berharap pada semua fasilitas yang disediakan, namun juga tidak bertindak di luar prosedur yang telah ditentukan panitia pelaksana perjalan haji di sana.

Jadilah tamu Allah yang baik dan selalu berprilaku terhormat, agar tidak membuat malu Banua saat berada di tengah-tengah penghuni dunia yang berkumpul melaksanakan ibadah haji. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved