Fikrah

Di Dunia Tuhan Bermain Cinta

Seseorang dikategorikan beriman jika mengenal Ada-Nya Allah SWT.Nabi SAW bersabda, Tafakkaruu fi khalqillaahi walaa tafakkaruu fillaahi fatuhlikuu

Di Dunia Tuhan Bermain Cinta
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum MUI Prov Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seorang budak perempuan ditanya Rasulullah SAW, “Apakah kamu beriman?” Ia menjawab, “Ya, saya beriman.”Rasulullah SAW bertanya lagi, “Kalau begitu, di mana Allah?” Jawabnya, “Di langit.” Mendengar itu, beliau berkata, “Bebaskan, ia sudah beriman.” (HR Bukhari Muslim).

Seseorang dikategorikan beriman jika mengenal Ada-Nya Allah SWT, Nabi SAW bersabda, Tafakkaruu fi khalqillaahi walaa tafakkaruu fillaahi fatuhlikuu, Pikirkan tentang apa yang Allah SWT ciptakan dan jangan memikirkan Dzat Allah SWT, (bila anda paksakan) akan binasa.

Bila pertanyaan di benak anda muncul: alam ada karena diciptakan Allah, siapa menciptakan Allah? katakan: amantu-billah (aku beriman pada Allah SWT), kemudian istigfar dan berlindunglah kepada Allah SWT (isti’adzah), itu bisikan setan.” (HR Bukhari Muslim).

Akal makhluk Allah hanya mampu mengenal makhluk-Nya. The Black Hole Theory mengatakan, manusia mengetahui sekitar 3 persen wujud yang ada, 97 persen misterius. Allah perlihatkan bukti (ayat) keberadaan-Nya, Firman-Nya, Sanuriihim aayaatinaa fil-aafaaqi wa fii anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahulhaq.
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka, Alquran adalah benar …” (QS. 41/53).

Allah SWT ciptakan makhluk agar dikenal, Kuntu kanzan makhfiyyan, fa aradtu an u’rafa fa khalaqtul-khalqa fabii arrafuunii, “Aku perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, dengan Aku-lah mereka mengenal-Ku”. (HR Muslim).

Dia ciptakan makhluk karena tiga perkara, 1) kodrat (kekuasaan)-Nya tidak terhingga, maka harus ada yang menyaksikannya; 2) nikmat Nya tidak terhitung, maka harus ada yang menikmatinya; dan 3) rahmat Allah SWT tidak terbatas, maka harus ada yang menerimanya. (Bahjat, Allah fil-Aqidah Al-Islamiyah, hal.16)

Syekh Al-Jaza’iri mengatakan, La yajuuzuttakalluma fi dzatihi ta’ala bil-aqli li’annal-aqla qaashirun an idraki dzatil-khaaliqi fa kullu maa khthara bibaalika falahuu bikhilaafi dzaalika, Tidak dibenarkan membicarakan Dzat Allah dengan akal karena ia tidak mampu menggapai-Nya, apa saja yang terlintas di hati; Allah berbeda dengan itu.

Allah SWT adalah dzat wajib a-wjud (Dzat yang wajib ada). “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah, Tuhan bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS 112/1).

Kita diperintahkan membaca ayat-ayat (bukti) Allah SWT yang tertulis dalam wahyu-Nya dan terlukis di alam semesta, bahwa sifat-sifat Allah tidak terhingga, hanya Dia yang mengetahui (HR Ibnu Mas’ud).

Sembilan puluh sembilan nama terbaik-Nya (Al-Asma Al-Husna) diajarkan kepada Nabi SAW, siapa yang membilangnya masuk surga. (HR Bukhari). Dua puluh sifat yang tasyabbuh (terkecoh) pada pemikiran (logika); wajib, mustahil dan jaiz, populer disebut sifat dua puluh. Abu Hassan Al-Asy’ari).

Tiga sifat populer Allah SWT; Jamal (segala yang indah), Kamal (segala yang sempurna), dan Jalal (segala yang hebat). Dua sifat paling dirasakan oleh manusia ialah Rahman dan Rahim. Sifat pemungkas, laitsa kamitsilihi syai’un (tidak ada suatu pun yang setara dengan-Nya).

Lewat alam semesta, Allah SWT menampakkan eksistensi-Nya diistilahkan dengan tajalli, bukan tajalli dzat tetapi tetapi tajalli sifat dan af’al. Bila seseorang tidak mampu membacanya, ia dituduh buta hati yang ada di dalam dada, Afalam yasiiruu fil-ardhi fatakuunuu lahum quluubun ya’aqiluuna bihaa au aadzaanun yasma’uuna bihaa fa innahaa laa ta’mal-abshaaru walaakin ta’mal-quluubi fish-shuduur.

Artinya: Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mempunyai hati dengannya dapat memahami atau mempunyai telinga dengannya dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi buta hati di dalam dada.” (QS. 22/46).
Dengan menyaksikan alam semesta, kita diharapkan mampu membaca apa yang tersurat dan tersirat. Fi kulli syai’in lahuu aayatu tadullu ‘alaa annahul-waahidu, sesuatu adalah bukti menujukkanm, Dia Esa.” (Hassan Ayyub, Tabsith Al-Aqa’id ,33).
Dimanakah posisi kita di dunia? Allah SWT telah bermain cinta dengan kita. Wa ilaahukum ilaahun waahidun, la ilaaha illa huwaarrahmaanurrahim. Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS 2/162).

Dikirim-Nya segala macam nikmat, agar kita dapat bermain cinta tajalli dengan-Nya. Sudikah anda menyambut cinta-Nya? (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved