Bpost Cetak

Komjen Pol Mochammad Iriawan : Saya Memang Pernah ke Rumah Novel Baswedan

Hendardi, me­ngungkapkan perwira tinggi Polri berpangkat jenderal bintang tiga yang diperiksa adalah Komjen Pol Mochammad Iriawan.

Komjen Pol Mochammad Iriawan : Saya Memang Pernah ke Rumah Novel Baswedan
BPost Cetak
BPost edisi, Jumat (12/7/2019) 

Wawancara Ekslusif Komjen Pol Mochammad Iriawan
Mantan Kapolda Metro Jaya

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pegiat hak asasi manusia sekaligus pakar dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus teror terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, Hendardi, me­ngungkapkan perwira tinggi Polri berpangkat jenderal bintang tiga yang diperiksa adalah Komjen Pol Mochammad Iriawan.

Bagaimana respons mantan Kapolda Metro Jaya, yang kini Sek­retaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) tersebut? Berikut wawancara khusus dengan Wartawan Tribun Network Vincentius Jyestha, Kamis (11/7/2019).

Menurut TPGF kasus Novel Baswedan yang dibentuk Kapolri, Anda telah diperiksa terkait kekerasan penyiraman air keras ke wajah Novel. Apa saja yang ditanyakan?

Itu, internal kan. Dulu sudah mengklarifikasi bahwa bukan diperiksa. Kalau diperiksa itu namanya di BAP namanya di pro justicia. Itu diklarifikasi. Perlu dicatat. Jadi TGPF datang ke sini minta klarifikasi. Menanyakan gitu. ‘Apakah bapak pernah ketemu Novel?’ Ya pernah, saya kan kenal juga. Bukan soal kasus, siapa pelakunya, enggak.

Baca: Nurdin Sempat Kabur Pakai Speedboat, KPK Tetapkan Gubernur Kepri Jadi Tersangka

Baca: Potongan Uang Kuliah Tunggal Dihapus, Mahasiswa Akhir ULM Protes ke Rektorat

Baca: Sempat Heboh dengan Garneta Haruni, Kimmy Jayanti Lahirkan Anak Greg Nwokolo, Ini Namanya

Baca: Tak Kunjung Turun Sejak Idul Fitri, Harga Cabai Capai Rp 80.000 Per Kilo

Apa maksud pertanyaan yang diajukan oleh TGPF terkait pernah bertemu Novel itu, apakah merujuk selepas kejadian penyerangan atau sebelum penyerangan terhadap Novel?

Sebelum kejadian (penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan pada 11 Paril 2017, Red), Novel kan kenal saya. Jadi ke kantor, kita diskusi masalah penanganan korupsi, sinergitas antara Polri dengan KPK. Kemudian habis itu saya pernah ke rumahnya. Waktu itu anaknya baru lahir. Si Umar yang kecil, pernah saya bilang gitu. Itu yang ditanyakan oleh TGPF. Jadi bukan nanya tahu (siapa) pelaku (penyiraman).”

Apakah TGPF mengemukakan alasan mereka mengklarifikasi pertemuan anda dengan Novel Baswedan?

Ya wajar, karena mungkin TGPF nanya bang Novel kenal siapa aja. ‘Oh pak Iwan saya kenal, pernah kesini’ (menirukan seolah Novel yang berbicara). Gitu aja yang ditanya. Jadi kaitan (soal) pelakunya siapa, nggak tahu saya pelakunya siapa. Itu kan urusan TGPF malah dalam menemukan pelakunya.

Jadi sekali lagi konfirmasi, anda bukan diperiksa, tapi klarifikasi. Ini bukan berarti klarifikasi dari TPGF mengenai siapa pelakunya, bukan? ‘Tapi pak Iwan pernah ke sana?’ Pernah. ‘Ngapain ke tempat pak Novel?’ Ya saya kenal dia.

Saya bilang silaturahmi. Dia (Novel Baswedan, Red) ke kantor kemudian suatu saat anaknya lahir. Saya dengan temennya dia, ada Haji Arif, itu sahabatnya dia yang Wakil Bupati Kebumen.

Baca: Atlet Pelajar Tapin Raih Medali Emas Kejurnas BMX, Noraida Latihan Genjot Sepeda Hingga MalaM

Baca: Sabu 1 Kg Asal Aceh Masuk Kalteng Ternyata Dikendalikan Napi Lapas

Anaknya lahir ya wajarlah saya kerumahnya datang. Itu jauh-jauh sebelum kejadian (penyiraman) itu.
Kasus penyiran Novel terjadi saat Anda menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya dan hingga dipindahtugaskan kasus masih belum juga selesai, pelakunya belum terungkap. Bagaimana anda melihat jalannya kasus ini?

Ya kan proses. Waktu itu yang jelas anak buah saya jalan (memproses kasus itu). Ya tapi kan Kapolda bukan masalah ngungkap kasus aja. Banyak, kamtibmas juga. Jadi ada timnya, ada Direktur Krimum-nya jalan. Silakan aja tanya dulu pengungkapannya ke Direktur Krimum-nya yang lama.
Tapi kan kita keburu pindah. Ya itu ditangani tim berikutnya. Jadi kembali ke TGPF, hanya nanya itu, ke tempat Novel ngapain, dalam rangka apa, gitu aja.

TPGF dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 8 Januari 2019. Tim ini berakhir masa tugasanya pada 7 Juni 2019, dan telah melaporkan hasil temuannya kepada Kapolri. (Tribunnews/Vincentius Jyestha)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved