Berita Tanahlaut

Kedatangan Mahasiswa KKN di Tanahlaut, Abdurrahman Bisa Belajar Memanfaatkan Kotoran Sapi jadi Pupuk

Sebagai orang yang tergabung dalam kelompok tani, pemanfaatan limbah sapi yakni untuk pupuk dianggap sangat membantu warga.

Kedatangan Mahasiswa KKN di Tanahlaut, Abdurrahman Bisa Belajar Memanfaatkan Kotoran Sapi jadi Pupuk
HO/Mahasiswa KKN
Para mahasiswa KKN ULM bersama petani mengaduk kotoran sapi dengan sekam untuk dijadikan pupuk organik di Desa Tabunio, Tanahlaut. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Kedatangan sejumlah mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), ke Desa Tabunio, Kabupaten Tanahlaut nampaknya memberikan angin segar di desa tersebut.

Para mahasiswa ini menawarkan pemanfaatan limbah menjadi hal yang berguna. Apalagi limbah yang dimaksud merupakan kotoran sapi yang sangat mudah di dapat di Desa Tabunio itu.

Warga setempat, Abdurrahman merasa bersyukur atas kedatangan para mahasiswa ini. Sebagai orang yang tergabung dalam kelompok tani, pemanfaatan limbah sapi yakni untuk pupuk dianggap sangat membantu  warga.

“Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk organik ini. Karena dapat membantu kesulitan dalam mencari pupuk,” ucapnya.

Biasanya ujar Abdurrahman, warga setempat yang bertani memanfaatkan pupuk kimia. Tentunya untuk mendapatkan benda tersebut mereka harus merogoh kocek lebih dalam. Tak hanya itu, kendati sulitnya pupuk dicari juga menjadi keluhan.

Warga bersama mahasiswa yang ikut KKN membuat pupuk bersama. Mereka dilatih untuk mengaduk dan mencampurkan bekas kotoran sapi dengan sekam padi. Sehingga menciptakan pupuk yang dianggap lebih hemat dan mudah di dapat.

Baca: Bupati Ansharuddin Inginkan Kopi Desa Liyu Bisa Dikembangkan Jadi Produk Unggulan

Perihal KKN kali ini, kepada Banjarmasinpost.co.id, Sabtu (13/7/2019), peserta KKN ULM, Farid menerangkan pemanfaatan limbah kotoran sapi memang dirasa cocok untuk kawasan tersebut. Apalagi ujarnya wilayah yang didatangi memang dominasi petani.

“Memanfaatkan pupuk organik ini secara tidak  langsung juga hemat uang. Karena dengan modal Rp 30.000 bisa membuat 75 kg pupuk organic. Dibanding warga membeli pupuk non organik menghabiskan Rp 187.000 untuk pembelian 75 kilo,” ucap Farid.

Ia berharap dengan adanya system baru tersebut, produk hasil petani seperti padi, cabai dan tanaman lainnya pun juga meningkat.

Ada sekitar 20 mahasiswa yang ikut dalam program KKN kali ini. Mereka merupakan mahasiswa dari sejumlah jurusan. Di antaranya prodi matematika, kimia, biologi, fisika, ilmu komputer dan farmasi.

Baca: Ini Ciri-ciri Ponsel BM yang Bakal Diblokir Pemerintah, Dijual Toko Online dan Tak Punya Kode IMEI

Kegiatan yang digelar selama kurang lebih satu bulan itu rupanya tak hanya meangkat tentang petani. Mereka juga berencana meningkatkan pariwisata di Desa Tabunio. Terlebih ujar Farid, kawasan tersebut potensi wisatanya juga begitu terlihat.

“Selanjutnya untuk wisata kami melakukan propaganda tentang pelestarian lingkungan terutama pantai Desa Tabanio. Hal ini dikarenakan Pantai Tabanio memiliki potensi yang besar jika dikembangkan dan memiliki ciri khas tertentu yaitu pohon besar yang menjadi ikonik pantai,” jelasnya.

Selain itu, Pantai Tabunio ujar Farid juga menawarkan keindahan ketika matahari terbenam. Tak kalah indah dibanding sunset pada pantai lainnya.

(banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)

Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved